Tuesday, 30 September 2014

Day 19. Lagu Pengantar Jeda

Saya tahu seharusnya saya mengistirahatkan diri dan berhenti untuk mengunggah tulisan dengan kesalahan gramatikal dan morfonsintaksis di sana sini. Hm.. kesalahan yang saya lakukan berulang kali dengan tipe dan pola yang serupa karena kepala saya sedang tidak bisa digunakan dengan baik. (atau mungkin pada dasarnya saya memang tidak cukup pintar untuk belajar dari kesalahan -_-)

Atau… mari menghibur diri sendiri. Menurut abang virtual saya, bisa saja saya sedang ada dalam kondisi di mana saya dihadapkan pada sebuah force yang memaksa otak saya untuk berputar dengan kecepatan menyimpan dam mengolah data yang melebuhi kemampuannya. Katanya mungkin ada suatu informasi besar yang berusaha untuk masuk ke otak saya namun tidak cocok dengan system belief di otak saya, sehingga menyebabkan konslet di sana sini…. (yang kemudian memungkinkan saya untuk sering merasa mengalami de javu -_-)
.
.
(jadi intinya apa?)
.
.
(hm..)
.
.
Jadi intinya saya sedang dihadapkan pada situasi di mana saya harus memilih untuk “menyetting” ulang agar ketika otak saya memproses data atau force yang masuk tidak terjadi…. Apa tuh namanya? Tidak terjadi scratch, kemudian bad sector, kemudian berantakan. Hng..  kalau berantakan kan berbahaya.  Nanti malah merusak tatanan  benteng-benteng yang sudah dibangun sejak jaman megalitikum…………..
.
.
Mari. 
Kita. 
Lawan.
.
.
Namun kemudian sebelum melawan kita butuh jeda. Seperti apa yang dikatakan mas-mas Gemini yang rada-rada sengklek otaknya, terkadang ketika melihat kemudian mengatribusikan makna terhadap sesuatu, kadang kita harus mengambil jarak beberapa langkah dari hal yang dituju. Baru setelah itu hal yang berkelindan nampak kemudian. Katanya.
.
.
Bu Isti, jadi intinya tulisan ini apa?
-_-
.
.
Intinya: Dihadapkan pada sebuah force? Take a deep breath, take a few step back, analyze, shoot~
Dan…….. ketika mengambil jarak beberapa langkah, mungkin terkadang terlalu lelah jika diiringi distorsi.  Hng…. atau tepatnya terlalu malu pada Bapak jika mendengarkan Metallica pada saat otaknya sengklek. Maka…….

Maka mari kita ambil jeda sambil menikmati nada-nada minor dan elegi patah hati yang sedikit picisan dari mereka yang umum dan menjadi lagu latar semua orangggggg~

  1.     Frente – bizarre love triangle
  2.     The Cardigans – communication
  3.     Sean Lennon – parachute
  4.     Goo goo dolls – Iris
  5.     The Smiths – please, please, please let me get what I want
  6.     Copeland – take care
  7.     The Cranberries – linger
  8.     No Doubt – don’t speak.
  9.     Weezer – say it ain’t so.
  10.     David Cook – always be my baby.


:))))))))))) amppppooons. Mari tutup dengan yang manis, The Avett Brothers – Life. :’)
Sudah ya... Terimakasih.
Dadah. Sampai jumpa, ketika bulan sedang di fase ketika kamu dilahirkan.

Friday, 26 September 2014

Day 18. Perkara Tidur yang Tidak Selalu Mudah

Tidur baginya adalah sebuah tempat teraman yang bisa dia singgahi setelah seharian berlari di lintasan semesta yang melelahkan. Perjalanannya menuju tidur bukan perkara sepele, sebelum tidur dia harus melewati sebuah labirin dengan dinding tanaman mawar merah yang subur penuh duri. Di labirin itu ada sebuah pola berulang, tapi kepalanya yang kecil dan menyedihkan kerap gagal dalam mengingat kembali cara tercepat dan paling sedikit resikonya menuju tempat di mana dia biasa tidur. Tidak jarang dia datang dengan lengan penuh luka karena tergores duri mawar. Ah masih untung baru lengan, bagaimana hatinya? Apa tergores juga? Hm. Jangan tanya (jangan ditanya karena aku tidak tahu pasti kondisi hatinya).

Labirin dengan dinding mawar merah berduri.

Begitulah. Dia kerap datang ke tempat tidurnya dengan luka yang masih mengeluarkan beberapa mili darah segar karena tergores duri mawar merah. Sebelum terlelap, dia kerap meringis karena irisan duri mawar merah itu. Meringis……. jika lukanya banyak, atau luka lamanya tergores luka baru, maka dia kemungkinan besar akan menangis. Sudah biasa melihatnya berjuang sebelum tidur. Meskipun di pagi hari dia tidak pernah mengingat detail perjuangannya melalui labirin mawar merah berduri yang dia lalui setiap malam. Dia hanya akan berkata, “sesungguhnya aku sedikit takut pada sesuatu yang tertidur di dalam diriku. Terkadang dia memintaku untuk menjerit atau menakut-nakutiku dengan sebuah kisah dongeng kelabu dari masa lalu. Terkadang juga jika aku lelah dia berhasil menemukan sebuah pintu ke taman mimpi di mana aku biasa duduk di antara bawah pohon rindang sambil bersantai makan roti gandum. Jika dia berhasil menemukan pintu masuk ke taman mimpiku, maka cuaca akan segera mendung dan langit berhiaskan petir. Dia tahu aku takut petir."

Hening. Jadi, pertanyaannya adalah, apa yang ada di sana? Apa yang tertidur di dalam dirinya? Bagaimana bisa tidurnya berarti kesempatan bagi makhluk itu merangsek bangun dan menggapai ke lapisan sadarnya? Bagaimana bisa dia menemukan cara untuk itu? Padahal ketika tidur semuanya gelap. Bagaimana bisa dia menemukan jalannya tanpa cahaya sedikitpun? Apa karena dia dibesarkan dalam kegelapan, jadi dia tidak butuh cahaya untuk berjalan? Jadi apa keinginan makhluk itu? Kenapa makhluk itu kerap datang? Apa yang harus dilakukannya? Apa dia harus berdamai? Berdamai dengan apa? Berdamai dengan kegelapan? Bagaimana caranya?

Bagaimana?

Thursday, 4 September 2014

Metalliversary yang Tertunda dan Kisah Kasih di Antaranya

Kepada yth, Bapak kami di Orion. Semoga berkah, rahmat dan kasih sayang Yang Maha Mencintai selalu dengan Bapak.

Bapak sehat? Akhir-akhir ini di youtube liat bapak perutnya agak buncit lagi. Ah, semoga Bapak buncit karena bahagia dan nggak bisa melewatkan berkah dan rezeki dari yang Maha Pengasih yah. Kebanyakan makan karena masakan ibu di sana terlalu enak. Ibu masak apa? Eh tapi Bapak jangan makan lotek mentah ya, hindari kacang panjang, melinjo, dan sayuran lain yang memicu asam urat. Bapak juga jangan lupa, harus minum air putih yang banyak. Minimal 8 gelas sehari, supaya pencernaan lancar dan kadar oksigen dalam darah nggak kurang.

Bapak, sekarang sudah genap satu tahun lebih beberapa hari semenjak pertemuan sakral kita dan jamaah metal yang soleh dan solehah di GBK. Seneng, alhamdulillah sampai sekarang kalau inget bapak sangat tampan hanya dengan kostum kaos hitam polos, saya masih suka senyum-senyum sendiri. Subhanallah~

Oh iya, ini mau cerita. Kenapa ritual metalliversary-nya tertunda? Ada beberapa alasan, Pak. Jadi tahun ini tanggal 25 agustus jatuh pada hari senin. Di hari itu, saya dikejar tenggat waktu untuk mengerjakan laporan observasi dan laporan asesmen di tempat kerja yang baru. Hng……. Iya, Pak. Sekarang saya sudah mulai bekerja di sebuah sekolah dasar swasta yang beroperasi di bawah yayasan sesuatu yang sampai sekarang belum inget, namanya apa -_-. Pokoknya, sekolah itu aktif dari pukul 07.30 – 15.00 WIB. Ingin sekali, mengusulkan pada sekolah untuk mengganti bel masuk dengan lagu Bapak, For Whom The Bell Tolls. Supaya anak-anak lebih semangat belajar dan tidak mudah menyerah. Heu.

Pemandangan saya akhir-akhir ini tiap pagi, Pak. Heu.
Hm… Jadi sekarang setiap pagi saya terkena sinar matahari pagi yang mudah-mudahan masih ada vitamin Dnya. Selama perjalanan juga mendengarkan lima lagu Bapak yang masuk dalam daftar putar metal ceria, dengan asumsi daftar putarnya menjadi sumber pengisi energi bagi saya sebelum menghadapi bocah-bocah. Kerja di sana lumayan, Pak. Belajar banyak hal, misalnya belajar sabar……….. Sekalian juga memilah hal-hal yang dipelajari di bangku kuliah untuk diaplikasikan di dunia nyata, untuk menghadapi bocah-bocah yang sedang dalam masa pertumbuhan. Oh iya, di sana juga kerja bareng sama anak Bapak yang lain, SR Puja Lestari.

Ini dengan SR Puja L. Gengsi sih unggah foto ini....... Tapi yasudahlah, toh posenya tak sengaja.
Jadi gini, Pak.. Di sana, saya menemani anak kelas 2 belajar tematik tentang hidup rukun. Lumayan lucu. Ada satu anak, inisialnya R. Itu bocah, sempet psikosomatis. Efeknya dia jadi keram kaki dan demam. Untuk meredakan demamnya, saya memperdengarkan lagu bapak yang Alhamdulillah selalu jadi obat di segala situasi (setidaknya untuk saya), yaitu: nothing else matters dan orion. Mahahahaha.. percakapannya gini, Pak.
I: R, dengerin ini, band bapaknya ibu. *pasang earphone ditelinga R, kasih lihat foto Bapak* 
R: Serius, bu? 
I: Iya, dong. Ganteng nggak? 
R: Aneh ah.. 
I: IH R, GAK BOLEH GITU. sama orang tua harus sopan.  
R: Serius ini bapaknya Bu Isti? 
I: Serius dong. 
R: Sekarang di mana? 
I: Di Amerika, lagi kerja. 
R: WAH. BU ISTI KE SINI NAIK APA DONG? 
I: Naik angkot. 
R: WAH. Angkot apa? 
I: ……….
Gusti alloh……. Nggak kuat, pak. Langsung pergi ambil minum supaya murid nggak lihat ibu gurunya ketawa ngakak kurang elegan. Kemudian tanya komentar dia, lagu Bapak gimana kesannya. Kata R, lagu bapak aneh, terlalu kenceng. Wakakakaka… Gimana dong, Pak. Seumur dia dulu saya nina bobonya the unforgiven. Ah, mohon maklum anak di era postmodern ini, Pak. Mungkin dia terlalu terbiasa dengan hidup yang nyaman, jadi ketika diperdengarkan sedikit distorsi, dia butuh waktu untuk mencernanya.

Ini R. Alhamdulillah, dikasih denger Metallica, psikosomatisnya sembuh.
Kemudian.. ada beberapa hal lain. Saya mau minta maaf sama Bapak. Saya belum lulus kuliah. Meskipun terakhir ketemu saya bilang akan lulus empat tahun. Tapi ternyata sistem di kantor jurusan agak menyulitkan saya untuk lulus empat tahun, Pak. Hm… meskipun sebenarnya saya enggan menjadikan itu sebagai rasionalisasi. Di sini, tetap saya yang seharusnya berusaha untuk belajar lebih tekun. Oleh karena itu…… sekarang saya sedang berusaha untuk menebus semuanya, dan belajar dengan lebih giat. Akan berlari dan mengejar batas yang saya buat sendiri. Insha Allah, Pak, doakan saya, saya akan menyandang gelar S.Psi di belakang nama saya sebelum berganti usia menjadi 23 tahun.

Ha.. yang terakhir. Bapake… sekarang saya ditemani belajar oleh seorang laki-laki yang lebih suka folk daripada metal -_-. Serius, Pak. Nggak satu ritme. Gimana dong. Objek transendennya juga perempuan cantik yang motto keluarganya: We Are Prey To None. Hm. Jauh sama saya ya, Pak. Pak, dia suka iseng kalau saya dan Puja sedang melakukan ritual ibadah nonton metallica. Berkomentar hal-hal tentang Bapak dan Om Om Metallica---yang astagfirullohaladzim--- mengundang tindakan agresi verbal dan nonverbal.
Misalnya yah, Pak.
“Ih, mereka kalau pulang konser kan suka pake koyo.. pegal linu." 
“Kenapa aneh yah, nama genre dijadiin nama band. Misalnya aku bikin band, genrenya teh rap, terus dikasih nama Rapica. Kan aneh……”
Masih ada beberapa yang lain, Pak. Tapi saya lupa, soalnya agak menyebalkan, jadi tidak terlalu saya dengarkan…. Hng…… Pak, dia aneh. Tapi tolong dimaafkan yah, nanti saya racuni dia dengan daftar putar metal bobo dan metal berkah. Supaya dia paham, kalau musik bapak dan om-om adalah salah satu dari sekian yang masuk dalam kategori rahmatan lil alamiin.

Untuk sekarang, suratnya selesai dulu ya, Pak. Saya mau menonton video konser Bapak Metallica Rock Am Ring 2014. Barakallah, Bapak. Semoga Bapak selalu dalam kondisi sehat, produktif, dan ada dalam lindungan dan kasih yang Maha Pengasih. :)
Assalamualaikum, wr. wb.

Thursday, 26 June 2014

Catatan Hati Seorang Isti

Halo, random citizen.
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh.
Apa kabar semuanyaaaaaaaaaa~

Semoga selalu dalam lindungan Dia yang Maha menggenggam semesta di antara jemariNya, yang memungkinkan kita untuk mengagumi dan memandangi bintang-bintang yang bergerak di kumparan konstelasi tanpa bertabrakan sebelum waktunya.

Kali ini, saya akan bercerita. Saya ingin menulis  dengan misi untuk menjaga  kesehatan mental saya. Saya menulis ini dalam kondisi… hm kurang baik. Saya sedang mencoba untuk melakukan regulasi emosi. Jadi kalau susunan kalimatnya kurang baik… atau lebih berantakan dari biasanya, mohon dimaklumi ya -_-

Akhir-akhir ini emosi saya naik-turun, kadang tanpa bisa saya kendalikan. Salah satu faktor penyebabnya adalah kebiasaan Ibu saya menonton sebuah sinetron yang menurut saya sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Hm. Ibu saya memang penggemar sinetron. Kerap kali saya mengingatkan beliau bahwa menonton sinetron membuat kapasitas kotak emosi mengecil, namun Ibu saya enggan mendengarkan saya. Menurutnya, sinetron adalah satu-satunya hiburan yang mudah beliau akses setelah lelah seharian bekerja. Baiklah. Mendengar itu, saya tidak bisa menggugat lebih jauh karena fakta, bahwa:
1) iya, Ibu saya lelah bekerja seharian.
2) yang membayar tagihan listrik di rumah saya adalah beliau. Jadi, Ibunda memiliki hak politik untuk menyalakan tv dan menonton apapun yang beliau inginkan.

Begini kronologisnya, Ibu saya biasa menyalakan tv sejak pukul 19.00 WIB sampai dengan pukul 22.00 WIB. Di antara waktu itu, Ibu biasa menonton berita capres (-_- ini saja sudah cukup membosankan, ayolah, ini pesta demokrasi rakyat yang mana?) dan menonton sinetron Catatan Hati Seorang Istri, kemudian disambung Tukang Bubur Naik Haji. Otomatis, kamar saya yang bersebelahan dengan ruangan tv tempat Ibu biasa menonton tv kebagian audionya. Saya bisa mendengar dengan jelas suara-suara dari TV. Saya bisa mendengar dialog sinetron itu. Jujur saja, mendengar dialognya yang luar biasa klise, membuat saya ingin menembak kepala orang yang menulis skenarionya. Menembak sebuah katapel beramunisi kacang atom. Karena mungkin dengan begitu otak kecil yang ada di belakang tempurung kepalanya bergetar sedikit. Kemudian menyadari, bahwa dialog yang dia tulis bisa membentuk persepsi orang yang menonton (atau dalam kasus saya, mendengar). Membentuk persepsi bahwa wajar saja jika perempuan yang disakiti oleh laki-laki tidak mengambil langkah tegas sebagai bentuk pertahanan diri selain bersabar karena hal itu yang paling dianjurkan oleh agama.

Ya tuhan. Sebentar, saya minum segelas air dulu. -_-

Mendengar dialog sinetron itu dari kamar saya, saya jadi ingin bertanya kepada penonton acara tv seperti ini. Saya penasaran, apa yang bisa dinikmati dari sinetron yang plotnya seperti ini? Apa membuat para perempuan menjadi lebih paham bagaimana  respon yang tepat ketika laki-lakinya berselingkuh? Apa para perempuan melihat refleksi diri mereka ketika disakiti laki-lakinya dalam sinetron itu? Apa perempuan melihat bahwa mereka ada di posisi tersebut? Posisi disakiti, posisi ada di bawah opresi? Mungkin bentuk opresinya bisa saja berbeda dengan yang ada di cerita sinetron tersebut. Tapi......

Hm. Baiklah. Mungkin saya harus kembali mengingat bahwa Ibu dan sinetronnya adalah… one of a cross I have to bear.

Sepertinya saya harus berhenti di sini. Saya tidak ingin menulis tentang bagaimana seharusnya perempuan menjadi seorang perempuan. Karena  saya percaya setiap perempuan memiliki konsep dan pemikiran sendiri tentang menjadi perempuan. Bagaimana cara untuk terus belajar, berkembang, menjadi pribadi yang lebih baik. Kemudian dari sana berangkat menjadi komponen yang berfungsi untuk membantu membangun tumbuh kembang society yang lebih baik.

sekian, dan terimakasih. sayonara panas.

p.s: ditulis dalam ketika datang bulan, hari pertama. hormon. perempuan. xx.
p.ss: ditulis dengan lagu latar: tigapagi – tangan hampa kaki telanjang.
p.sss: Sorry for the title, i can't help my self -_-

Monday, 26 May 2014

Day 14. Bilangan dan Sistem yang Berkelindan di Antaranya

Hari ini langit mendung, tapi nampaknya tidak akan turun hujan. Hm. Tipe cuaca romantis. Akan sangat menyenangkan jika bisa dihabiskan duduk di bangku taman dengan manusia yang hampir selalu bisa membuatmu tertawa. Tertawa karena hal sederhana, bahkan semi bodoh. Tapi di sini lah aku. Duduk di kamarku, sambil meniup satu sendok penuh nasi dan sayur kacang merah yang di masak ibuku agar cepat masuk kategori layak kunyah, supaya bisa meredakan konser keroncong di perutku.

Di sebelahku, duduk perempuan itu. Rambutnya ikal dibiarkan tergerai. Berantakan. Di telinganya, dia menyematkan setangkai bunga kamboja. Kenapa kamboja? Jangan tanya padaku. Aku juga tidak tahu pasti alasannya. Dan sejauh ini, aku tidak ada keinginan untuk bertanya padanya. Dia duduk sambil bersenandung lagu radiohead, 2 + 2 = 5.
“January has april showers, and two and two always makes a five. It’s the devil way now. There is no way out... You can scream and you can shout. It is too late now...”
Mendengarnya bernyanyi dengan suaranya yang aneh, aku berusaha untuk menahan tawaku. Mengapa? Karena aku sedang mengunyah makananku. Agak bahaya kalau aku harus menertawakan ke…. Keanehan perempuan itu. Jadi aku berusaha untuk tetap tenang. Berkonsentrasi pada makananku. Seolah bisa membaca pikiranku, perempuan itu berhenti bersenandung dan menatapku tajam. Aku menelan makanan yang ada di mulutku, kemudian membalas tatapannya.

Hening. Dia tak mengatakan apapun. Hanya menatapku. Akhirnya aku kembali menyendok nasi dan sayur kacang merahku. Namun kemudian dia memanggil namaku. Di suaranya, ada sebuah urgensi nyata. Aku kembali menatapnya.

“Dua tambah dua berapa?”, ujarnya serius.
Aku menghela nafas. “Empat.” Jawabku singkat.
“Kenapa kata radiohead lima?” dia kembali bertanya. Serius. Sangat.
“Hm.. mungkin Thom Yorke salah hitung.”, ujarku sekenanya.
“AH MASA. Dia joget kayak cacing kepanasan di…. Sesuatu yang judulnya flower. Masa nggak bisa hitung yang sesederhana 2 tambah 2?”
“Hm..”
Melihatku tak banyak memberi perhatian, dia nampak kesal kemudian menggeser pantatnya, duduk tepat di sebelahku.
“Oke. Ini serius. Satu tambah satu berapa?” dia menatapku. Matanya bulat.
Aku, tidak menjawab sampai nasi dan sayur di mangkukku habis. Minum segelas air putih, lalu menatapnya, “Dua.”
“Kenapa dua?”
“Dari SD, kata guru matematika 1 tambah 1 ya 2.”
“Pernah tanya kenapa jawabannya dua?”
“Nggak.”
“Kenapa nggak pernah tanya kenapa satu tambah satu sama dengan dua?”
“Karena memang dua.”
“Terus kamu setuju begitu saja, kalau satu tambah satu itu dua? Tanpa bertanya sebelumnya? Itu dogma namanya!”

Hah? Dogma? Ya ampun. Dia memicingkan matanya kemudian menatapku curiga. Mungkin di kepalanya terlintas teori konspirasi sesuatu, yang kalau menurut pendapatku, akan terlalu absurd untuk menjadi nyata. Setelah puas menatapku dengan tatapan curiga, dia membuka laptopku dan mengetik sesuatu. Ketika dia sibuk melakukan itu, aku pergi ke dapur dan menyeduh cangkir kopi keduaku untuk hari ini.

“Katanya, kenapa satu tambah satu sama dengan dua karena kita pake sistem bilangan desimal.” Aku mendengar dia berteriak dari kamarku. Suaranya bersahutan dengan denting sendok dan cangkir kopiku.
Aku masuk kembali ke kamarku, mendapati matanya berbinar. Kemudian dia berseru, “Karena apa, sekarang aku tahu!”
“Hah? Apa?”
“Kenapa dua. Karena kita menggunakan sistem bilangan desimal. Di mana di sistem itu, ada sepuluh angka yang diakui. Dari angka 0 sampai 9. Jadi 1 tambah 1 sama dengan 2 karena 2 nyata. Coba kalau kita menggunakan sistem bilangan biner di mana angka yang diakui nyata hanya 1 dan 0. Kalau menggunakan sistem biner, maka 1 tambah 1 sama dengan 10. Kenapa? Karena hanya dua angka itu yang nyata.”, dia menjelaskan panjang lebar. Berapi-api.
“Hah?” aku menatapnya tak percaya. Dia mencari tahu hal itu, lewat internet, selama aku menyeduh kopi? Dia ini kadang, kurang jelas ya.
“iiiiiiiiiiiiih dodol. Ini penting, kenapa jawabannya dua, karena dua tercatat di sistem, dan diakui. kalau dua nggak ada di sistem, nggak akan dua jawabannya. Paham nggak? Ngomong-ngomong, kenapa kita selalu diikat sistem sih?” Ujarnya kesal.
“Hm.. kopi ga?” aku menghiraukan hitungan, sistem dan bilangan yang secara tiba-tiba dia angkat menjadi topik percakapan sore yang seharusnya romantis ini.
“Nggak ah. Eh, kan berarti Thom Yorke, sistem bilangannya desimal juga, kan? Terus kenapa nggak 4?”
“Mungkin, manipulasi data?”, aku dengan sembarangan melempar asumsi.
Dia mengangguk-ngangguk. Mempertimbangkan asumsiku dengan serius. “Hm.. bisa jadi. Manipulasi. Penggembelembungan suara?”
“Penggelembungan suara apa?”
“Itu, suara pemilu.”
“Kenapa jadi pemilu?”
“Lagi ngetren.”
HM. Ngelantur. Dari topik A ke topik B. Loncat ke D. Kemudian roll depan ke topik M. Aku menyeruput kopiku, kasihan dia, terlalu lama aku acuhkan.
“Eh, katanya calon presiden X, anunya anu?” ujarnya bertanya lagi padaku. Dia tak kehilangan keseriusannya sejak tadi.
Aku tersedak kopiku. “Hah? Apanya?”
“Itu.”, ujarnya singkat, kemudian tertawa.

Sialan. Aku ikutan tertawa, menjitak kepalanya, kemudian berkata: “Di hidung kamu ada cat air tuh.”

p.s: dibuat dengan lagu latar kaki king - ..... until we felt red (album)
p.ss: maaf, aneh.
p.sss: ah, tolongin. nggak ingin diseret ketemu manusia dengan jas putih.