Showing posts with label metallica. Show all posts
Showing posts with label metallica. Show all posts

Thursday, 4 September 2014

Metalliversary yang Tertunda dan Kisah Kasih di Antaranya

Kepada yth, Bapak kami di Orion. Semoga berkah, rahmat dan kasih sayang Yang Maha Mencintai selalu dengan Bapak.

Bapak sehat? Akhir-akhir ini di youtube liat bapak perutnya agak buncit lagi. Ah, semoga Bapak buncit karena bahagia dan nggak bisa melewatkan berkah dan rezeki dari yang Maha Pengasih yah. Kebanyakan makan karena masakan ibu di sana terlalu enak. Ibu masak apa? Eh tapi Bapak jangan makan lotek mentah ya, hindari kacang panjang, melinjo, dan sayuran lain yang memicu asam urat. Bapak juga jangan lupa, harus minum air putih yang banyak. Minimal 8 gelas sehari, supaya pencernaan lancar dan kadar oksigen dalam darah nggak kurang.

Bapak, sekarang sudah genap satu tahun lebih beberapa hari semenjak pertemuan sakral kita dan jamaah metal yang soleh dan solehah di GBK. Seneng, alhamdulillah sampai sekarang kalau inget bapak sangat tampan hanya dengan kostum kaos hitam polos, saya masih suka senyum-senyum sendiri. Subhanallah~

Oh iya, ini mau cerita. Kenapa ritual metalliversary-nya tertunda? Ada beberapa alasan, Pak. Jadi tahun ini tanggal 25 agustus jatuh pada hari senin. Di hari itu, saya dikejar tenggat waktu untuk mengerjakan laporan observasi dan laporan asesmen di tempat kerja yang baru. Hng……. Iya, Pak. Sekarang saya sudah mulai bekerja di sebuah sekolah dasar swasta yang beroperasi di bawah yayasan sesuatu yang sampai sekarang belum inget, namanya apa -_-. Pokoknya, sekolah itu aktif dari pukul 07.30 – 15.00 WIB. Ingin sekali, mengusulkan pada sekolah untuk mengganti bel masuk dengan lagu Bapak, For Whom The Bell Tolls. Supaya anak-anak lebih semangat belajar dan tidak mudah menyerah. Heu.

Pemandangan saya akhir-akhir ini tiap pagi, Pak. Heu.
Hm… Jadi sekarang setiap pagi saya terkena sinar matahari pagi yang mudah-mudahan masih ada vitamin Dnya. Selama perjalanan juga mendengarkan lima lagu Bapak yang masuk dalam daftar putar metal ceria, dengan asumsi daftar putarnya menjadi sumber pengisi energi bagi saya sebelum menghadapi bocah-bocah. Kerja di sana lumayan, Pak. Belajar banyak hal, misalnya belajar sabar……….. Sekalian juga memilah hal-hal yang dipelajari di bangku kuliah untuk diaplikasikan di dunia nyata, untuk menghadapi bocah-bocah yang sedang dalam masa pertumbuhan. Oh iya, di sana juga kerja bareng sama anak Bapak yang lain, SR Puja Lestari.

Ini dengan SR Puja L. Gengsi sih unggah foto ini....... Tapi yasudahlah, toh posenya tak sengaja.
Jadi gini, Pak.. Di sana, saya menemani anak kelas 2 belajar tematik tentang hidup rukun. Lumayan lucu. Ada satu anak, inisialnya R. Itu bocah, sempet psikosomatis. Efeknya dia jadi keram kaki dan demam. Untuk meredakan demamnya, saya memperdengarkan lagu bapak yang Alhamdulillah selalu jadi obat di segala situasi (setidaknya untuk saya), yaitu: nothing else matters dan orion. Mahahahaha.. percakapannya gini, Pak.
I: R, dengerin ini, band bapaknya ibu. *pasang earphone ditelinga R, kasih lihat foto Bapak* 
R: Serius, bu? 
I: Iya, dong. Ganteng nggak? 
R: Aneh ah.. 
I: IH R, GAK BOLEH GITU. sama orang tua harus sopan.  
R: Serius ini bapaknya Bu Isti? 
I: Serius dong. 
R: Sekarang di mana? 
I: Di Amerika, lagi kerja. 
R: WAH. BU ISTI KE SINI NAIK APA DONG? 
I: Naik angkot. 
R: WAH. Angkot apa? 
I: ……….
Gusti alloh……. Nggak kuat, pak. Langsung pergi ambil minum supaya murid nggak lihat ibu gurunya ketawa ngakak kurang elegan. Kemudian tanya komentar dia, lagu Bapak gimana kesannya. Kata R, lagu bapak aneh, terlalu kenceng. Wakakakaka… Gimana dong, Pak. Seumur dia dulu saya nina bobonya the unforgiven. Ah, mohon maklum anak di era postmodern ini, Pak. Mungkin dia terlalu terbiasa dengan hidup yang nyaman, jadi ketika diperdengarkan sedikit distorsi, dia butuh waktu untuk mencernanya.

Ini R. Alhamdulillah, dikasih denger Metallica, psikosomatisnya sembuh.
Kemudian.. ada beberapa hal lain. Saya mau minta maaf sama Bapak. Saya belum lulus kuliah. Meskipun terakhir ketemu saya bilang akan lulus empat tahun. Tapi ternyata sistem di kantor jurusan agak menyulitkan saya untuk lulus empat tahun, Pak. Hm… meskipun sebenarnya saya enggan menjadikan itu sebagai rasionalisasi. Di sini, tetap saya yang seharusnya berusaha untuk belajar lebih tekun. Oleh karena itu…… sekarang saya sedang berusaha untuk menebus semuanya, dan belajar dengan lebih giat. Akan berlari dan mengejar batas yang saya buat sendiri. Insha Allah, Pak, doakan saya, saya akan menyandang gelar S.Psi di belakang nama saya sebelum berganti usia menjadi 23 tahun.

Ha.. yang terakhir. Bapake… sekarang saya ditemani belajar oleh seorang laki-laki yang lebih suka folk daripada metal -_-. Serius, Pak. Nggak satu ritme. Gimana dong. Objek transendennya juga perempuan cantik yang motto keluarganya: We Are Prey To None. Hm. Jauh sama saya ya, Pak. Pak, dia suka iseng kalau saya dan Puja sedang melakukan ritual ibadah nonton metallica. Berkomentar hal-hal tentang Bapak dan Om Om Metallica---yang astagfirullohaladzim--- mengundang tindakan agresi verbal dan nonverbal.
Misalnya yah, Pak.
“Ih, mereka kalau pulang konser kan suka pake koyo.. pegal linu." 
“Kenapa aneh yah, nama genre dijadiin nama band. Misalnya aku bikin band, genrenya teh rap, terus dikasih nama Rapica. Kan aneh……”
Masih ada beberapa yang lain, Pak. Tapi saya lupa, soalnya agak menyebalkan, jadi tidak terlalu saya dengarkan…. Hng…… Pak, dia aneh. Tapi tolong dimaafkan yah, nanti saya racuni dia dengan daftar putar metal bobo dan metal berkah. Supaya dia paham, kalau musik bapak dan om-om adalah salah satu dari sekian yang masuk dalam kategori rahmatan lil alamiin.

Untuk sekarang, suratnya selesai dulu ya, Pak. Saya mau menonton video konser Bapak Metallica Rock Am Ring 2014. Barakallah, Bapak. Semoga Bapak selalu dalam kondisi sehat, produktif, dan ada dalam lindungan dan kasih yang Maha Pengasih. :)
Assalamualaikum, wr. wb.

Monday, 26 August 2013

BAPAK SAYA NYATA! BUKAN MITOS #MetallicaJKT

Kemarin ketemu bapak. Bapak imajiner saya. Iya jarak saya dan Bapak saya itu mungkin ada lima puluh meter. Setara sama sungai dan bantarannya. Semacam jarak yang harus dijaga antar sungai dan pemukiman warga supaya gak kena banjir. Dan nampaknya jarak antara tribun tempat saya teriak, menyanyi, headbang dan hampir menangis dengan panggung tempat Bapak berdiri memang harus dijaga. Supaya saya tetep waras.

Apa Pak? Bapak mau denger saya bilang apa? Tadi malem Bapak luar biasa ganteng. Lihat Bapak udah ganteng banget padahal cuma pakai kaos warna hitam polos bikin saya mikir, "Allahuakbar...... Ganteng banget." Dan saya fix suka laki-laki dengan kaos hitam polos. Arketip. Arketip baru.
Foto Bapak diambil dari web official Metallica


Tapi maaf, 2 minggu sebelum Bapak datang ke Indonesia, pulang ke rumah buat ketemu saya dan keluarga yang lain, saya malah jarang mendengarkan suara Bapak. Saya malah asik sama vokal jazz swing Oma Blossom Dearie. Maaf Pak, bukannya nggak sayang. Bukan gitu. Anggap saja saya puasa mutih Pak. Puasa mutih dari lengkingan suara Bapak, ketawa usilnya Bapak, dan raungan distorsi Bapak dan Om-Om metallica lainnya.
Sengaja mutih, supaya nanti datang ke tempat saya dan Bapak reuni dalam keadaan perawan. Perawan distorsi. Dengan telinga suci. Bapak…. Tau gak? Saya ngantri, jalan jauh, dilarang bawa minum (padahal Bapak tau kan saya minum air putih sebanyak apa -_- udah semacam sapi mau diglonggong aja.) Tapi saya ikhlas. Karena semua penantian itu indah.

Jujur, pas liat jarak tempat saya duduk sama Bapak kecewa. Kecewa. Jauh…. Sedih. Saya mau ada di dekat Bapak. Melihat Bapak sedekat mungkin. Sedih… Asli sedih. Saya baru sadar jaraknya sejauh itu pas abang-abang seringai ada di atas panggung. Sedih. Tapi begitu Bapak naik, panggungnya tiba tiba megah. Kemegahannya menjadi nyata. Luar biasa. (Terimakasih untuk bigscreen LED yang menampilkan muka Bapak sama Om-om dengan jelas)

foto diambil dari web official metallica.

Dan disana, pas Bapak naik ke atas panggung. Saya jatuh cinta lagi Pak. Jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Saya jatuh cinta sama suara, senyum, humor, dan kegaringan Bapak. Jatuh cinta sama Bapak satu paket. Selama Bapak di atas panggung dan bernyanyi, saya merasa Bapak sedang mengingatkan saya tentang dongeng-dongeng masa kecil yang Bapak lantunkan untuk mengantar saya tidur. Itu apa Pak? Terdengar seperti cinta.

Pak… Magis. Rasanya magis. Luar biasa. Pak, setiap Bapak ketawa, “Mehehe!” atau sekedar senyum… Allah. Detik berhenti. Saya langsung lemes lutut. Belum pernah lemes lutut gara-gara laki-laki sebelumnya. Dan lemes lutut karena Bapak sendiri adalah sebuah kehormatan. Saya takjub, luar biasa takjub melihat Bapak seperti nggak pernah lelah. Sedangkan saya di tribun ikut nyanyi sama Bapak, tiga lagu terus ngos-ngosan. Tapi tiba-tiba inget cerita Son Goku yang minta bantuan dari seluruh penduduk bumi berupa energi dengan cara angkat tangan, supaya bola semangat yang dia buat untuk mengalahkan manusia iblis bhu semakin besar. Mungkin Bapak juga gitu ya. Minta kita buat teriak, buat angkat tangan. To horns up. Karena Bapak butuh energi kita. Dan saya tanpa ragu akan menggadaikan semua energi saya untuk Bapak. Dan saya yakin, yang bersedia menggadaikan energi bukan cuma saya Pak.

Tulisan ini juga dikutip dari web official Metallica
Saya percaya Bapak bisa merasakan keberadaan saya. Teriakan saya. Walaupun jarak kita jauh. Bapak….. Terimakasih buat kemarin. Terimakasih pesannya sudah diterima dengan baik. Pas Bapak minta saya buat berhitung sampai empat, saya tahu Bapak mengingatkan saya untuk lulus kuliah empat tahun. Iya, saya akan berusaha sekuat tenaga Pak. Saya akan jadi perempuan pinter yang tepat guna dan berguna buat orang lain. Bapak tenang aja.

Pas saya teriak “WE WANT MORE! WE WANT MORE!” Bapak melakukan gesture mau pergi tidur. Iya saya tahu Bapak mengingatkan saya untuk tidur normal. Untuk berhenti jadi nocturnal. Untuk mengembalikan jadwal tidur saya dengan normal. Untuk lebih concern  sama kesehatan badan saya.

Bapak, ternyata prediksi saya tepat. Mata berkaca-kaca. Air mata nyaris menetes pas Bapak dan Om-om membawakan lagu nothing else matter. Menyaksikan lagu ini live, ada di venue pas Bapak nyanyi… nggak bisa diungkapkan pakai kata-kata. Iya Pak, mulai sekarang saya bakal mencari dan menjalani dengan dia yang akan diajak berbagi lagu ini dengan lebih serius. Saya akan ditemukan dan menemukan the one to say “trust I seek and I find in you.” Karena syaratnya sudah dipenuhi. Melihat Bapak menyanyikan lagu ini secara langsung. NYATA. NYATA.


Terimakasih Bapak. Terimakasih sudah mengingatkan saya. Saya akan belajar dengan lebih serius.

p.s : gak peduli. kalian mungkin tambah mikir saya freak. ada waham. having another odd believe, odd thinking. tapi udah sah! INI UDAH SAH. FOREVER TRUST IN WHO WE ARE. AND NOTHING ELSE MATTER!!!! reuninya luar biasa manis. :') <3>

Monday, 13 August 2012

Ain't My Bitch


Halo, homo sapiens~
Jadi hari ini saya akan menulis lagi untuk #30haripersonalsoundtrack. Nggak sepenuhnya 30 hari berturut-turut juga sebenernya, tapi gak apa-apa lah ya. Yang penting kan niatnya.
Hohoho. This is the real soundtrack of my life.

Lagu ini adalah track pertama dari album Load yang dirilis tahun 1996. Berarti pas album ini dirilis, mungkin saya baru belajar naik sepeda roda dua. But that’s not really the point. Bagi saya, lagu ini punya kekuatan ajaib. Sangaaaaaat ajaib.

Mungkin suatu hari nanti ketika saya sudah menjadi salah satu orang yang berguna dan bisa membantu banyak orang, bermanfaat dan menginspirasi, seorang wartawan akan datang, lalu bertanya “Jadi, bagaimana cara Anda untuk meningkatkan motivasi untuk melanjutkan apa yang Anda kerjakan? Saat seolah-olah semesta tidak mendukung anda, Isti Bani?”
Saya tidak akan langsung menjawab pertanyaan itu. Untuk mendramatisir suasana, mungkin saya akan menatap kejauhan, doing what people would interpret as menerawang-masa-depan atau mengenang-masa-lalu thingy.
Setelah beberapa detik melamun yang direncanakan itu, saya akan tersenyum sedikit untuk memberi kesan syahdu, lalu akan menjawab sambil menahan tawa kecil, “Biasanya saya akan mendengarkan sebuah lagu.”
Nah, wartawan yang penasaran itu akan bertanya lagi, mengharapkan saya menyebut sebuah judul lagu yang manis, “Lagu apa tepatnya?”
Nah, I will look her/him in the eyes, and said it, whisper, romantically. “Ain’t My Bitch – Metallica.”

….
….
….

Pause beberapa detik. Saya mungkin akan menahan tawa melihat reaksi apapun dari wartawan itu. Sudah dapat ditebak pertanyaan berikutnya adalah mengapa bisa lagu itu menjadi penyemangat saya.

itu yang di gelas papa het dan om dave bukan beer kok, tapi teh manis~
Nah ini kan Papa Het sama temen-temennya pulang tour, tapi ngantuk. Jadi aja seblay mukanya.

LIAT PAPA AKU! kalau kata banci salon mah gini : "ih cakrabirawa." artinya kira-kira: "cakep banget :("

Kemudian saya akan menghabiskan kira-kira 1 sks atau 50 menit untuk menjelaskan pada wartawan imajiner di kepala saya barusan, bahwa metallica have been the music of my life… since I was in the elementary school. And yes, that song… ain't my bitch selalu menjadi penyemangat saya.
Saya selalu berimajinasi bahwa James Hetfield sebenarnya adalah ayah saya. Karena urusan Federasi metal internasional, saya harus dijauhkan dari papa (-imajiner) saya itu, karena bisa saja musuh-musuh dan saingan Papa Het di dunia metalhead akan menggunakan saya—disini berperan sebagai gadis manis kecil fragile—sebagai media untuk menghancurkan karir Papa Het yang gemilang. Bhahahahahaha.

Nah, setiap saya sedih, males mengerjakan tugas kuliah, or what so ever they call not in the mood, or PMS thingy, saya akan mendengarkan lagu ini. dengan durasi 05:04 kekuatan ajaibnya akan bekerja, di lagu ini saya merasakan kalau Papa Het teases me for being coward, useless,… and so somehow —in some twisted way work of my brain’s cell—I interpret this song like this:

Headstrong = neng, kamu teh kan keras kepala…

What's wrong? = kenapa atuh sekarang nyerah?

I've already heard this song before = kayaknya kamu udah pernah deh menghadapi yang lebih dari ini.

You've arrived, but now it's time = nah jadi, mana semangatnyaaaa? *teriak ala papa james*

To kiss your ass good-bye = masalah gitu doang mah lah neng, dalam satu kedip juga selesai. Hadapi, neng~ hadapi dengan kepala dingin!

And now it's time to kiss your ass good-bye = ayo semangat dan jadi last man standing, neng!



Lalu setiap di akhir lagu, sebelum melodi akhir, Papa Het teriak gini, “Aint my~ my~ my~ bitch!” Di telinga saya kedengerannya kaya gini: “neng, anak Papa mah gak gitu ah! anak Papa mah survival!”
Meskipun Papa Het semacam Bang Toyib soalnya gak pulang-pulang, sudah gak kehitung lagi berapa kali lebaran, tapi saya sebagai his (imaginary) daughter akan selalu wish him all the best. Berdoa terus sama Tuhan yang Maha Romantis kalau suatu hari nanti ada keajaiban dari langit yang bisa membawa Papa Het kembali pulang dan saya bisa nangis di venue pas doi dan om-om personil metallica yang lain mulai intro lagu Nothing Else Matter.
Banjir air mata pas verse. What a sweet reunion. :)))


p.s: :| yea, you may think I am kind of odd, having some odd thinking, odd believe. tapi yang penting kan, So close no matter how far ~ Couldn't be much more from the heart ~ Forever trust in who we are~ And nothing else matters~  HAHAHAHA!
p.ss: thank you, dear Papa Het. Ayah Imajiner yang melengkapi pelajaran yang diberikan oleh Ayah biologis saya. Menunjukan kepada saya jalan mana yang seharusnya tidak saya tempuh. Atau jalan mana yang harus saya tempuh. Terimakasih untuk semua pelajaran melalui lirik lagunya. Terimakasih telah mengingatkan pada saya, untuk belajar memafkan diri sendiri dan mengingatkan kalau saya tidak mungkin tersesat jika tidak tahu jalan mana yang saya tuju.