Thursday, 17 April 2014

Day 1. Rok yang Kurang Cocok Untuk Diajak Menggelinding

Its been ages since the last time I write something here… dan tiba-tiba kemarin Hani, mengirim pesan singkat yang isinya, “30 days of writing, yuk.” And I thought “Em hell, why not.” Saya sedang dilanda kebosanan akut jadi telat melakukan kalkulasi bahwa perkara 30 hari menulis ini akan membutuhkan dedikasi dan komitmen. Oke, singkatnya setelah saya dengan serampangan menyetujui untuk melakukan 30 hari menulis, Hani mengusulkan 15 topik, dan dia meminta saya untuk mengusulkan 15 topik berikutnya. Ketika saya membalas pesan singkat Hani perihal 15 topik dari 30 hari menulis ini, saya sedang mencuci baju. Tepatnya, saya sedang menjemur rok seragam SMA sepupu saya. Jadi, tanpa pikir panjang, saya menulisnya sebagai topik pertama. Ketika mengetik balasan pesan singkat itu, saya tidak melakukan kalkulasi apapun.. dan akhirnya, di sini lah saya. Dengan kening berkerut. Memikirkan rok.

Rok. Skirt. Dress. Fashion item. Sebelumnya…. Ijinkan saya untuk melakukan sebuah pengakuan. Saya bukan tipe perempuan yang terlalu feminine. Agak boyish. Sedikit. Bahahaha saya ingat ketika SMP saya begitu tomboy. Mengikuti ekstrakurikuler basket, membaca komik di bangku kelas paling belakang, dan mendiskusikan lagu Avril Lavigne dan Simple Plan dengan Hani yang kadar freaknya sebelas duabelas dengan saya. Pada saat itu—glory days—saya hampir selalu mengenakan kaos berwarna hitam dan celana jeans. (well… sekarang juga nggak terlalu jauh dari itu sih. -_-). 

Sampai titik itu, sense of fashion isti bani remaja sampai di sana. Rok? Hanya punya rok sekolah. Kriks. Namun kemudian semua berubah ketika Negara api menyerang…. azzzzzzzz sorry really.. nggak bisa menulis dengan serius. Saya sedang di tengah-tengah mengerjakan laporan magang dan merasa bosan menulis kalimat-kalimat yang serius. So, back to the skirt, semua berubah ketika isti bani masuk SMA, bertemu teman-teman perempuan yang agak normal… kemudian diperkenalkan bahwa di dunia ini ada fashion item selain kaos berwarna hitam.

Mereka mengajari saya what color good with what.. and sort of thing. Jadi sekarang… isti bani di usia 22 tahun memiliki beberapa rok dan mari sebut saja sense of fashion yang saya rasa lebih baik. Oke. Hm. I’m counting and as far as I remember I only own one black skirt that I usually wore to attend psycodiagnostic class, doing presentation thingy. Some dress. Well… 3 dress. Warna hitam (tentu saja), biru (hm..), dan abu (baiklah). Sisanya? Ada beberapa rok terusan vintage lungsuran dari ibu. Dengan motif bunga-bunga….. yang pernah saya canangkan akan saya pakai ke konser Burgerkill. Tapi ternyata, karena alasan keamanan dan ijin dari ibu Negara—neng isye the first lady—rok terusan bunga-bunga vintage itu gagal ada di moshpit.

In case you’re curious, here’s the sneak peak of that floral vintage dress:


Sampai jumpa lagi. Besok. Besoknya lagi, besoknya lagi, besoknya lagi… dan besoknya lagi -_-

Monday, 24 February 2014

Surat Kecil dan Some Kind of Monster

Bandung, 24 Februari 2014
Kamar Stibans.
20:04 WIB. 24' C

Bapak~ its been a while. Bapak apa kabar? Sehat? Cukup minum air putih? Makan sayuran? Makan jeruk? Tidur nyenyak? Saya menulis surat cinta ini sambil tersenyum meskipun tanpa kafein... sudah hmmm hampir dua minggu mungkin nggak diguyur kafein, kepalanya kering dan miring. Bapak, sekarang saya benar-benar berusia genap, 22 tahun. Dulu kan di sini sempat menulis sesuatu yang absurd soal usia. Sekarang juga mau menulis surat absurd sih. Tapi sekarang kepalanya agak ribut, karena itu juga jadi ingin cerita sama Bapak. Ingin menulis. Kalau kata Om Derrida gini: “I would like to write you, so simply. So simply. So simply. Without having anything ever catch the eye. Excepting yours alone. So that above all the language remains self evidently secret. As if it were being inventent at every step, and as if it were burning immediately.” Cie gitu ya, Pak. Mahahaha..

Mari mulai.. Jadi gini… Seminggu terakhir ini mulai PLA alias magang di LAPAS anak Sukamiskin. Iya, saya apply magang di P2TP2A, di kantor impian yang sering saya ceritain ke Bapak sebelum tidur itu.. tapi ternyata ditolak sama ibunda Sri Maslihah, kemudian ditempatkan di sana, di LAPAS anak ini. Saya baru seminggu di sana, dan mendengarkan cerita dan kasus dari sudut pandang mereka, dan itu cukup bikin saya sangat bersyukur sama semesta saya. Ha…. Magang di sana, bikin saya makin sering inget Bapak. Serius deh. Inget konser sama video klip St. Anger yang berlatar di lapas San Quentin itu loh. Mau histeris cerita dari A sampai Z tapi nanti Bapak pasti ngomong, “Kalem, neng. Ceritanya satu-satu.” Atau mungkin Bapak bakal menatap sambil menahan tawa kemudian bilang, “Kamu cerita hal-hal ini memang nggak melanggar kode etik profesi?” Terus nanti saya jadi bingung sendiri, garuk-garuk kepala terus akhirnya cerita yang umum-umum.

Yang umum, misalnya: suasana di sana. Petugasnya baik-baik kok. Hm iya baik. Anak didik LAPASnya juga baik. Saya dan temen-temen yang magang di sana diberi akses untuk melakukan hal-hal. Cuma kadang nih, saya harus menahan impuls untuk protes karena most of them memandang perempuan, memandang saya sebagai objek. Terus saya ingin…. Hm….. Krik. Pokoknya sisi itu saya semacam… dites rentangnya segimana. Bapak, jangan ketawa -_-

Mungkin Bapak harus kasih sedikit wejangan sama mereka---sama andikpas alias anak didik LAPAS---soal perkara ini itu. Supaya mereka belajar juga, kalau mereka nggak mungkin nyasar, kalau mereka nggak tau tujuannya apa. Supaya mereka menerima dan memaafkan hal-hal. Supaya mereka yakin, kalau mereka tetap punya kuasa atas semesta yang mereka jalani. Karena mereka adalah aktor utama dalam drama kehidupan yang mereka pilih, bukan sekedar reaktor terhadap insting atau tekanan lingkungan. Mereka bukan sekedar korban keadaan: terlepas dari bagaimanapun kondisi keluarga dan lingkungan sosial di mana mereka tinggal. Mereka punya pena di tangan mereka, dan terserah mereka mau menulis apa. Mungkin Bapak harus meraung dalam iringan distorsi gitar, dan meyakinkan mereka, kalau mereka punya opsi. Selalu punya opsi. (tiba-tiba jadi humanis) (tapi gimana lagi) (bentar, nafas dulu) (apa yah ini? Nggak ngerti lagi).

Oke, sekian dulu cerita singkat dari LAPAS anak Sukamiskin. Soalnya baru satu minggu juga kan…  jadi data yang saya punya masih sekedar hasil observasi umum yang belum mendalam. Hm. Sekarang saya mau cerita sama Bapak apa yang terjadi akhir-akhir ini.

Pertama: Nilai seminar psikologi klinis sudah keluar. Nilainya di luar perkiraan. Alhamdulillah nggak usah sidang ulang, tapi perkara tawaf judul skripsi masih harus terus dijalani. Ah, dan saya makin sayang Ibunda Sri.

Ke dua: Abim punya pacar baru. Pacar Abim itu perempuan sarjana psikologi yang zodiaknya aquarius juga… Perkembangan dia juga kadang bikin saya khawatir. Perempuan macam apa yang akan bisa dan akan mau menemani dia belajar? -_- (tapi mungkin kemudian abim juga kadang ada di posisi saya, mengkhawatirkan dan wondering.)

Ke tiga: Kemarin pas duduk di masjid LAPAS, laki-laki berkromosom xy penyumbang setengah kromosom nelpon saya. Katanya selamat ulang tahun. Menelepon setelah telat empat hari, tapi saya nggak terlalu peduli juga sih sama ulang tahun. Lalu dia menanyakan hal-hal yang masuk kategori basa-basi. Mungkin ada 4 kalimat. Terus terpikir, dulu dia terbiasa dengan sistem yang ada di intansi ini. Di tempat saya terdampar dan belajar sekarang. What a coincidence. Semesta dan talinya kadang memang lucu dan bekerja dengan cara yang melampaui pemahaman manusia ya. (Apa manusianya yang menolak paham?)

Ke empat: kemarin hari jumat sore jatuh. Bukan jatuh cinta, tapi jatuh beneran. Hm... mungkin ngelamun. Iya, maap. Nanti akan lebih hati-hati. Nggak cedera segimana juga. Hanya saja, mungkin sudah bisa Bapak duga: Ibunda, Neng Isye the First Lady panik minta ampun. Ah ibunda, sebagai perempuan dan sebagai ibu memang posesif, dan keposesifannya nyata. Masih memperlakukan saya seolah saya ini balita.Tadi aja pulang kerja ibunda bawa dua permen loli pop untuk saya. Harus apa coba, Pak? Selain peluk dan sesekali gelantungan di Ibunda sambil bilang: “he, mau masuk perut ibu lagi, mau berenang di rahim.” -_- Perhatian ibu sederhana dan manis, mungkin dulu waktu masih kuliah ibunda digandrungi dede-dede gemes yah? Juniornya mungkin berlomba buat mencuri perhatian ibu. Perempuan dengan rambut ikal yang menatap dengan tegas namun lembut dan pengertian. Perempuan miniatur semesta dan semua misteri yang berkelindan di antaranya. Ah Ibu.

Ke lima: hm. Pak, yang itu. Hm.. salah. Ada yang salah. Itunya salah. Kayaknya. Iya salah, dan iya kemudian menarik garis. Tapi kadang-kadang kalau lagi duduk di bus, perjalanan dari rumah menuju Sukamiskin, suka kepikiran. Apa nggak apa-apa? Apa ada di kondisi yang baik? Kayaknya mungkin akan selalu di antara itu yah. Hm. Apa ini efek saya ada di kategori tipologi INTJ? Jadi sulit menahan impuls untuk tetap observasi? (terus nanti Bapak komentar, “ah INTJ apa, neng. Itu mah, kamunya aja… iseng dan susah nahan curiosity, yang katanya kill the cat.”)

Baiklah. Sekian. Kangen. Harus ngomong nggak? Tapi kayaknya Bapak juga tau yah kalau saya kangen Bapak. Jadi nggak ingin gombal bilang ini itu ini itu yang Bapak udah tau. Buat apa? Bingung juga ngomongnya gimana. Eh Pak, ngomong-ngomong, perempuan yang berjalan sambil tertawa dengan saya di bawah sinar bulan purnama kemarin suka kepikiran rambut Om Lars :))))))) bahahaha. Suruh potong rambut juga, biar ganteng. Supaya songong tipikalnya nggak tenggelam. 

Selamat tidur nyenyak, Bapak. Selamat menuju tanggal 25~ Semoga Bapak dan geng bromance-nya selalu ada dalam lindungan Dia yang Maha menggenggem semesta dan mengikat tali konstelasi yang kita pijak ini di antara jemariNya. 

p.s: diunggah dengan lagu latar the cranberries - never grow old. Bapak, jangan tua. mari! #menolaktua sama saya........ hm............
p.ss: Pak, seri #aquariusdanpohon udah selesai, saya bikin seri apalagi yah..
p.sss: Bapak suka bintang? mungkin suka yah. (Asumsi). Eh tapi mungkin beneran suka, makanya bikin lagu judulnya orion, yang nggak pernah gagal mengantar saya tidur. Haa... Tidur....

Saturday, 8 February 2014

Gejala

Day 14. Seri Aquarius dan Pohon.

Aku menatapnya. Dia balik menatapku, dingin. Tatapan matanya hampir selalu seperti itu. Kadang ada kerling, atau ada riak. Dan kadang… dingin. Seperti sekarang. Dia terluka. Aku tahu itu. Dan diamnya menjadi pemantik bagiku untuk merenung, kejadian apa yang menimpanya. Siapa yang membuatnya kembali menerjang badai. Siapa lagi yang menggodanya untuk terjun dari pesawat dan memotong tali parasutnya?

Aku mengenalnya terlalu lama. Aku mengetahui hampir semua hal tentangnya. Warna kesukaannya, kenapa dia selalu menggambar hal yang sama, apa yang dia benci, apa yang membuatnya tertawa, atau alasannya kenapa dia menyimpan struk-struk belanja, atau bungkus permen yang kuanggap tak penting. Aku mengenalnya terlalu lama. Terlalu sering melihatnya, terlalu sering mendengar tawanya. Sampai aku bosan dan ingin meninggalkannya. Namun tak bisa. Aku terikat, dan dia.. memang mengikat. Mungkin kadang dia tak sadar kalau dia mengikat beberapa simpul. Entah sudah berapa yang terpaksa dia seret. Terseok-seok di antara langkah kakinya yang kecil. Terseok, diseret… sampai akhirnya temali yang terikat dan mengikat itu tak tahan dan putus sendiri. Karena waktu. Atau karena gesekkan antara temali dan aspal yang dia pijak.

Dia sering jatuh. Bagaimana tidak? Dengan semua temali yang mengikat dan terikat di kakinya, banyak posibilitas dia jatuh. Jatuh dalam berbagai skenario dan pose. Dari jatuh yang nampak elegan, sampai jatuh yang konyol. Mengingat kecerobohannya yang ada di batas wajar, aku tersenyum. Melihat bibirku tersenyum kecil, keningnya langsung berkerut. Menuduhku macam-macam. Aku. A. B. C. D. Dia menatapku, penuh selidik. Dia bertanya tanpa kata. Dan aku diam saja. Menatapnya. Dalam hati aku berhitung, berapa lama dia akan mampu menahan diri sebelum melempar pertanyaannya secara nyata padaku.

Melihatku diam, dia memalingkan wajahnya. Dia tetap dingin, tapi ku tahu pasti dia kesal. Kesal karena aku tak buru-buru mengungkapkan pikiranku, isi kepalaku padanya. Dan kesal karena dia merasa aku seharusnya tahu apa yang ingin dia ketahui tanpa harus dia lempar pertanyaannya secara nyata. Ah, dia itu memang selalu ingin tahu apa yang terjadi di dalam sana. Dia hampir selalu ingin tahu hal-hal seperti itu. Yang menurutku kecil dan tak penting. Mungkin dia pikir, semuanya ada motifnya. Ada alasan di balik setiap perlakuan. Dan dia ingin mengetahui alasan-alasan tersebut. Jika kamu melempar pertanyaan kepadanya, mengapa dia ingin tahu, mungkin dia akan menjawab, dengan sederhana: karena ingin. Hanya karena ingin.

Lalu kamu akan menganggapnya egois karena hal itu. Mengobrak-ngabrik sebuah ruangan di dalam diri seseorang, hanya karena dia ingin tahu.  Ya, aku tahu kamu akan berpikir seperti itu karena aku juga pernah ada di fase itu. Aku merasa bahwa dia hanya ingin membacaku. Dia hanya memperlakukanku seolah aku ini pamphlet yang dibagikan di jalan. Dia akan membacanya, kemudian selesai informasinya dia serap, dia akan membuangnya ke tempat sampah. Paling bagus mungkin pamphlet itu akan dia simpan di dalam dompetnya. Atau mungkin jika terlalu menyukai pamphlet itu, akan dia akan menggambar sesuatu di atasnya, kemudian dia jadikan pembatas buku yang sedang di bacanya.  Membiarkannya tersesat di hutan aksara, seperti dirinya.

Namun sampai saat ini, setelah melalui fase-fase itu. terikat, jatuh, sakit, merasa dibaca, bosan, lelah, ingin pergi, tapi ternyata aku tetap menatapnya. Tetap ada di sana, Menatap dia yang tersesat dalam pencarian gejala yang hampir selalu dia tolak untuk terima. Namun kemudian kembali dia perhitungkan. Dia yang berusaha selalu menghitung posibilitas dan gejala dalam jelaga yang tak utuh. Selalu tak utuh.

Wednesday, 29 January 2014

Sex Sux - I Got Bones (in The Kitchen)

Bandung, 12 November 2013
Gedung FIP UPI. 3.18
07:34 WIB. 27°C. Cerah Berawan
Warna kerudung: Hitam

Halo, Random Citizen.Apakabar? :)

      Saya menulis ini selama kelas PSP (Penyusunan Skala Psikologi). Alih-alih menyimak ceramah Bapak dosen mengenai skala likert, saya malah memutuskan untuk berselingkuh.Tepatnya, Berselingkuh dengan rusuh dan temali yang mengikat kepala saya sejak dini hari pukul 01.07 WIIB. Rusuh di kepala saya adalah buah dari pesan instan via messenger kekinian yang dikirim oleh Ichan. Karena pesan instan itu, mulailah terjadi… kerusuhan., kerusuhan akibat saya memikirkan sex. Saya jadi gelisah, mendadak merasa gelisah.
     Pertama, iznkan saya untuk bertanya kepada kamu, random citizen: Apa yang pertama kali terlintas di kepala kamu ketika mendengar kata ‘sex’? Apakah yang terlintas adalah kata sifat? Kata benda? Atau kata kerja?
       Mungkin—maafkan dan kembali izinkan saya untuk mengambil asumsi secara serampangan—presentase terbesar yang terlintas pertama kali di kepala kamu saat mendengar kata sex adalah sebuah kata kerja, sebentuk aktivitas, bukan sekadar organ tubuh manusia. Bukan sekadar perkara genital, apalagi sekadar perkara selangkangan.Namun,  sesuatu yang lebih dari itu, Yin dan Yang, Anima dan Animus.
    Baiklah, karena itu saya akan mengajak kamu, random citizen, untuk bertamasya ke sebuah segitiga ternama, Segitiga Hierarki Kebutuhan Maslow. Ada lima tahap hierarki dalam segitiga Maslow yang kemudian direvisi—kalau tidak salah pada tahun 1970—menjadi delapan tahap hierarki. Tapi, kita akan tamasya ke segitiga yang klasik. Hierarki dari lima tahapan tersebut adalah sebagai berikut: fisiologis, safety, belongingness, self esteem dan aktualisasi diri. Ah saya benci hierarki. Namun menurut saya, perkara seks ini—aktivitas seksual—memenuhi semua tahap dari 5 hierarki kebutuhan Maslow.
      Pertama. Sangat nyata: sex, aktivitas seksual adalah hasrat manusia yang paling mendasar. Hasrat hewani. Sebuah bentuk pertahanan diri: berkembang biak. Mempertahankan rasnya, ras humani agar tetap ada di muka bumi.
      Kemudian yang kedua, safety alias keamanan.Saya percaya jika orang berani melepas semua keresahan mereka dan dengan rela hati telanjang, membuka semua topeng yang menutupi diri lalu bersama-sama melebur, berfusi dengan tubuh lain, individu lain, keresahan lain, dan ketakutan lain,akanmelahirkan rasa aman yang luar biasa.
         Ketakutan yang baru disadari manusia pasca Hawa atau Eve tergoda untuk mencicipi buah terlarang, buah Khuldi, buah pengetahuan.Karena buah ini, manusia jadi menyadari kalau mereka telanjang.Matanya terbuka pada keresahan, ketakutan, kekurangan dan kelebihan mereka. Walhasil, manusia menutupi diri. Ah Eve. Hawa.
        Yang ketiga: belongingness. Perasaan—atau ilusi?—menyalurkan dan disalurkan afeksi. Belongingness itu ketika kamu merasa berani untuk meruntuhkan semua pertahanan karena merasa memiliki seseorang, ketika kamu merasa memiliki dan pada akhirnya merasa cukup lalu rela menjadikan dan dijadikan selimut kulit oleh individu lain di bawah terang bulan. Belongingness juga mencakupkeberanianmu berbagi keresahan itu dan berfusi, merasakan peleburan tanpa khawatir kehilangan diri selama prosesnya. Belongingness pun berarti ketika kamu merasa berada di tempat yang seharusnya.Dan, pada akhirnya,  kamu merasa kamu utuh.Kamu kosong, namun utuh.
      Kemudian, hadir lagi fakta bahwa perasaan melebur itu bukan hanya menghilangkan keresahan kamu-- meskipun mungkin sifatnya hanya sementara--, tapi juga melahirkan perasaan lain: rasa puas. Excitement.Excite merangkum bagaimana kamu merasa memuaskan dan dipuaskan.Pada akhirnya perasaan itu meningkatkan self esteematau harga dirimu.
       Yang terakhir, dalam kondisi sekosong apapun, kamu merasa utuh, cukup, lagi penuh. Rasa Penuh ini yang mendorongmu merasa berhasil mengaktualisasikan diri dan menjadi manusia sepenuhnya.
        Aktivitas seksual berhasil memenuhi lima tahap hierarki kebutuhan klasik yang dibuat oleh Maslow. Namun ternyata riuh dan resah yang ada di kepala saya tidak selesai di sini. Saya terusik dengan kata yang saya tulis sendiri di kebutuhan ke empat,self esteem. Harga Diri. Ah betapa manusia bisa kerap resah.
      Walhasil, dini hari pukul 01.28 WIB, saya mengirim pesan singkat dengan isi serupa pad dua orang berbeda. Yang pertama, sahabat perempuan saya dengan inisial P dan yang kedua, seorang senior laki-laki dengan inisial M. Saya mengirimi mereka pesan singkat dengan tujuan mulia: meredakan keresahan dan distorsi yang ada di kepala saya sendiri. Bhuahahaha.
Begini cuplikannya:
X: Gak ngerti. Kalau Perempuan boleh, bisa, dan sah-sah aja dijadiin objek seksual tanpa ditanya dulu persetujuannya, apa laki-laki juga mau, boleh, bisa, dan sah-sah aja dijadiin objek seksual? (Kalau dijadiin kesepakatan kolektif memang mau jadi objek?) 
P: Untuk budaya tertentu sih bisa aja. Cuma ngga banyak diekspos aja. Soalnya stereotip sosial cowo itu jadi subjek, bukan objek.Ya nyambung ke peran gender.Kesannya cowo lemah dan ga punya kuasa kalau dijadiin objek seksual.Padahal banyak, apalagi cowo yang lebih muda dari cewenya (Setau aku). Korban pelecehan seksual cowo sama cewe jarang diangkat paling cowo sama cowo.
(di sini, saya sempat merasa enggan membahas gender karena akan erat kaitannya dengan nilai agama dan budaya hingga bahasannya akan berubah menjadi… krik krik krik)
X: Ah… Penis sombong yah. 
P: Iya, karena banyak orang-orang jenius cowo sih. Feminis kaya mati. Jaga pride sih cowo yang dijadiin objek seksual kebanyakan pada diem karena mungkin menganggap itu paksaan yang penuh kenikmatan. Ah penis susah bohong sih. Terlalu reaktif.
(Apa? Feminis kayak mati? Kepala saya menolak argumen ini. Kemudian pada akhirnya mulai mengetik balasan pesan singkat itu….)
X: ITU! Penis susah bohong. Horny aja pengumuman :)))))))))))))). Banyak perempuan pinter kok dari dulu. Mungkin sekarang feminis dipandang jelek karena dianggap menuntut perempuan > laki-laki, bukannya perempuan = laki-laki. Tapi kalaupun iya, sebagian ingin >, bukankah itu hanya manifestasi atau reaksi dari rasa frustasi setelah entah dari zaman kapan perempuan selalu dijadiin objek, alat, media, bukannya dijadiin pendamping atau rekan yang setara. 
P: Si penis wawar bari balaga = mentang-mentang punya sejuta sperma, jadi riya.
(Haha… saya senyum sendiri mengakhiri percakapan dan beralih pada senior saya. M. Begini percakapannya…)
X: Gak ngerti. Kalau Perempuan boleh, bisa, dan sah-sah aja dijadiin objek seksual tanpa ditanya dulu persetujuannya, apa laki-laki juga mau, boleh, bisa, dan sah-sah aja dijadiin objek sekusal? (Kalau dijadiin kesepakatan kolektif memang mau jadi objek?) 
M: Hm… Ngga tau.Mungkin bisa.
(Krik.Krik.Krik.)
Dini hari pasca menerima pesan singkat balasan dari M—yang begitu nyata singkatnya—,saya tertidur atau tepatnya memutuskan untuk tidur.Saya meninggalkan sahabat saya yang kemungkinan terus memikirkan betapa si penis jaga pride lalu a, b, c, d dan e.
           Pagi hari, ketika saya bersiap-siap untuk pergi ke kampus, menghadiri kelas PSP—yang kemudian saya isi dengan perselingkuhan :|—saya berpikir “wajar saja jika senior saya, M, tidak berkomentar banyak mengenai laki-laki sebagai objek seksual karena M adalah laki-laki”. Jadi, premis yang terlintas di kepala saya adalah: “Oh M, yang notabene pria, posibilitas memandang penis sebagai objek seks kecil. Mana mau atau mana bisa dia berfantasi soal……..”. Begitulah, premis pertama saya berhenti di sana. Kemudian saya malah memikirkan sebuah fakta umum yang akan disepakati masyarakat Bandung: lampu merah Pasteur lamanya minta ampun :|
          Lantas ketika saya berjalan kaki meniti tangga menuju ruang kelas ini, FIP 3.18, tiba-tiba hadir premis lain di kepala saya. Premis yang kedua mengenai balasan pesan singkat M yang betulan singkat: “Tapi bukankah fakta bahwa M yang mengaku ‘ga tau, mungkin bisa’ mengenai perkara laki-laki sebagai objek seks ini agak rancu? Maksud saya… bukankah seharusnya pernyataan paling reliable mengenai laki-laki—atau spesifiknya: penis—sebagai objek seks datangnya dari laki-laki? Kan secara statistik, laki-laki lebih sering bermain dengan penis(nya)? Menjadikannya sebagai objek untuk memperoleh kepuasan. Iya kan? Iya nggak? Secara statistik loh….”
        Kemudian premis kedua saya berhenti lagi-lagi begitu saja. Sahabat saya, P, terlambat masuk kelas. Dipilihnya tempat duduk di sebelah saya dan kami melanjutkan diskusi dini hari hingga sampai ke konklusi: sudut pandang kami relatif sama.
Saya seorang perempuan. P juga seorang perempuan.Apa yang saya cari? Apa yang saya inginkan?
             Saya ingin kesetaraan, dimana kedua belah pihak tidak menggunakan kekuatan baik fisik maupun psikis untuk mendominasi, dimana kedua belah pihak memiliki porsi, tanggung jawab, dan hak yang seimbang.Kesetaraan dimana kedua belah pihak sepakat untuk saling menghormati, saling memanusiakan, memanusiakan manusia. Karena manusia itu pelupa, maka mari saling mengingatkan.


“Tidak tahukah kamu, bahwa racun paling berbahaya itu adalah lupa?”




p.s: ini versi x setelah disunting oleh kangmas manan, dia yang ada di belakang primitifzine. :D
p.ss: versi asli sempat mejeng di paperzine #12: Seksualitas dan Kita.
p.sss: diunggah dengan lagu latar: noah and the whale - two atoms in a molecule.

Saturday, 25 January 2014

Perjalanan (cukup) Panjang Sebelum Terang

Akhir-akhir ini, saya dan teman-teman seangkatan sedang bergelut dengan tugas akademis yang menjadi… menjadi apa ya? Menjadi karya terakhir sebelum menyandang beban S.Psi di belakang nama. Iya gitu beban? Bentar, perkara ini beban atau nggak mungkin akan saya renungkan lagi nanti. Kapan-kapan, mungkin suatu sore ketika hujan di tempat yang cukup nyaman untuk menikmati segelas kafein. Ngomong-ngomong soal kafein, saya terakhir ngopi kapan sih? Kok ngantuk amat.

Eh, kenapa jadi ke sana….. kenapa jadi ke kopi. Isti bani, kamu harus fokus. Fokus untuk menjawab pertanyaan penelitian. Tapi pertanyaan penelitiannya apa? Ini kali… pertanyaan yang pernah dilemparkan oleh seorang rekan saya: “Ti, kenapa kita harus bikin skripsi?”
….. hening. Tapi seolah yakin, saat itu saya langsung menjawab: “Karena itu media dan sarana kita buat belajar. Upgrade skill.”
Skill? Ah.
Saat itu, iya pertanyaan dia berhenti di sana. Tapi ternyata pertanyaan dia tetap bercokol di kepala saya untuk beberapa lama. Kenapa yah… harus bikin skripsi? Lalu… muncul pertanyaan baru, memang kalau harus bikin skripsi kenapa gitu? Nggak sanggup? Takut? Males? Mungkin akan lahir alesan lain. Excuses… mungkin juga alesan saya muncul: writer’s block. Meh. Apalah, minta dijitak. 

Saya mau cerita babak baru soal ini, soal si skripsi ini. Perjalanannya lucu. Sumpah, lucu… Selama prosesnya… selama proses tawaf ganti variable buat cari judul penelitian yang tetap, di kepala saya terngiang sebuah lagu patah hati kacangan: the cardigans – communication.

Saya tawaf di kantor jurusan… di depan pintu ruangan Ibunda Sri Maslihah, M. Psi, Psi… Ibu Sri… yang cintanya saya rela tukar dengan salah satu dari tiga permintaan kalau berhasil mengumpulkan dragonball dan ahirnya summon shenlon. Ibu sri yang membimbing 4 mahasiswa lain yang nampaknya sudah lebih dulu akrab dengan beliau, karena urusan penelitian atau dinas lainnya. Dan saya? Saya…. Saya hanyalah butiran gula tepung di donat seribu lima ratus rupiah di klinik lapar. Dan saya, berulang kali… harus banyak aksi. Untuk menegaskan eksistensi saya di depan Ibu Sri…. “I didn’t really know what to call you, you didn’t know me at all. But I was happy to explain….”

Kemudian… semua proses bimbingan proposal itu saya lalui. Tegang. Lumayan. Cukupan. Setiap saya mengajukan variable baru…
#1.  X pada A. Result: Access Denied.
#2. Hubungan X terhadap Y pada A. Result: Access Denied.
Masih biasa… Stay Cool. Jaga pride. Nggak panik.
#3. Hubungan X dan Z terhadap Y pada A. Result: Access Denied.
“I never really knew how to move you. So I tried to intrude through the little holes in your veins…”
#4. Hubungan W dan Z terhadap Y pada A. Result: Access Denied.
Mulai… bingung. Rasa-rasanya ingin mulai menari tari piring di rumah makan Padang, yang uda-nya ternyata rumahnya di Tasik, bukan di Bukit Tinggi. -_-
#5. Hubungan W dan X terhadap Y pada A. Result: Access Denied.
……. Denied dengan cara yang…. Menyedihkan. Ibu Sri secara kasual, berjalan melewati isti bani yang sedang duduk santai. Lalu, tanpa diduga, menoleh ke arah isti bani, kemudian: “Isti, proposal kamu saya tolak ya… nggak masuk akal.”
Nggak masuk akal? Kaget. Hampir mental break down. Lalu? Tertawa… Ha..haha…hahaha….
“I’m talking and talking, but I don’t know how to connect.. And I hold a record for being patient, with your kind of hesitation
#6. Hubungan V dan W terhadap J pada A.
Diam. Diam. Diam. Lima hari… nggak ada kabar dari Ibu Sri. Isti bani, reload email setiap lima menit sekali. Mengirim beberapa sms pada beliau, tak kunjung dibalas…. Lalu…. Pecah…… tumpah…… 
“I’ll never really learn how to love youBut I know that I love you through the hole in the sky… If this is communication.. I disconnect . I’ve seen you, I know you, but I don’t know how to connect. So I disconnect...
Lalu saya memutuskan untuk menelepon teman satu bimbingan, yang lebih dulu disayang Ibu Sri.. (ini ngetiknya sambil cemburu.. hahahaha).. Kaget mendengar suara saya yang kalut, dia berusaha untuk menenangkan saya. Kemudian.. secara ajaib.. setelah saya menelepon dia, Ibu Sri membalas sms saya. Sial. Makin cemburu. Mahahaha. Ibu Sri meminta saya untuk bersabar, dan menjelaskan… betapa sibuknya beliau… But still, Result: Access Denied.

Jadi, saya bersabar. Menunggu... Lalu, di kamis pagi yang lumayan dingin, saya melakukan ritual mengecek ponsel. Ada beberapa sms. Salah satunya dari Bu  Sri, masuk ke ponsel saya pukul satu diri hari. Terharu. Isinya: “Asw, ini isti bani?”. Mahahahaha saya tertawa. Mendengar ibunda sri mengucapkan—apa mengetik—nama saya, rasanya sangat aneh. Setengah sadar, saya membalas sms beliau. Lama, tak ada balasan… lalu saya mengecek kotak terkirim. Ternyata balasan saya bodoh :/ untuk mengoreksi kebodohan saya, saya menelepon ibunda Sri. Lalu kami berjanji untuk bertemu di kampus. Aih…. Deg-degan. 

Dan…… pertemuan kami… singkat. Namun padat makna. (apalah istibani…. diksi kamu, kenapa?) Eh tapi serius. 10 menit, pasca saya uas lisan metode penelitian kualitatif, dan pasca ibunda Sri menjadi penguji di sidang skripsi, kami bertemu.. dan Ibunda Sri bilang sesuatu yang intinya: “Kamu, mendekat. Berjalanlah di bawah payung penelitian saya.” Kyaaaaaaa~~~~~~ (Sebenarnya untuk beberapa detik, karena frase payung penelitian, di kepala saya berputar lagu payung teduh. Ck. Brain. “Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata, ketika kita berdua. Hanya aku yang bisa bertanya, mungkinkah, kau tau jawabnya?”)

Lalu, jadilah… dengan bekal yang diberikan Ibunda Sri, saya mencoba. Melakukan percobaan ke #7. Hubungan F dan G pada B. Access: Granted. 
SUBHANALLAH! Ibunda Sri, bilang, “Sip, sudah bagus. Sidang Februari ya… Tapi, perjelas latar belakang. Jangan lupa input data dari jurnal nasional mengenai mengapa B butuh F.”
Haaaaaaaaa ibu… Terharu sih. Kemarin, setelah Ibunda Sri bilang bisa maju sidang, saya… nyengir. Padahal perjalanan masih panjang. Tapi rasanya… Lebih ringan… :)

Dan, si kepala yang hobi banget ngisi soundtrack, memutar lagu ini untuk saya: Munchausen Trillema – If Loving You Is HeartbreakingIya, mencintai ibu Sri beberapa kali membuat saya patah hati. Membuat saya bingung harus melakukan apa. Tapi, seperti lirik lagunya, “This is love I thought, Isn’t it? When you notice someone absence and you hated it. More than anything. More than you love his presence…
Iya, datang bimbingan, kemudian melihat proposal saya diperlakukan seperti kartu remi untuk main poker memang sedikit nyelekit. Tapi, Ibu Sri yang nggak membalas pesan singkat saya, Ibu Sri yang sulit ditemui… lebih membuat saya…. Kalut. Haha. Jadi, so be it! Saya, sekarang (sepertinya) lebih siap untuk stage berikutnya. Bab 1, Bab 2 dan bab berikutnya. Karena apa? Karena sesungguhnya, Ibu Sri… “If loving you is heartbreaking, so be it.

Ehehehe… Maap panjang. Balik lagi ke paragraf pertama. Perkara menulis skripsi itu… sepertinya kurang lebih upgrade skill. Kira-kira, untuk saya.. segala perkara dan proses yang terjadi di antaranya, membuat saya belajar untuk menghargai dan menaati system. Mencoba untuk sabar. Dan menghargai prosesnya. Nggak semua yang saya mau bisa saya dapatkan secara instan. Nggak semua yang saya mau, saya dapatkan dengan cara saya. Kadang, ada cara lain yang sudah disiapkan Dia yang Maha. Dan saya sedang menikmati menjadi bidak yang diikat system. Bidak di semesta yang buta aksara, tapi Dia yang Maha Berencana, nggak buta aksara… Jadi, istibans harus belajar sabar buat baca. Pelan-pelan. Pelan-pelan. Melalui perantara Ibunda Sri Maslihah, mudah-mudahan saya belajar ini itu…………… huhu. Mudah-mudahan, beneran jadi upgrade skill.... Supaya healing pointnya meningkat.

Kepada Bapak: Tenang, pesannya masih saya pegang. Si perkara lulus empat tahun akan diusahakan. Ini mau serius juga kok. Lagi manasin mesin. Tungguin yah. Hehe. Bapak, kok kurusan? Ish, anaknya gendutan nih di Bandung. Makan yang banyak, tapi jangan gule aja. Makan jeruk, satu kilo. Hahahahaha selamat tanggal 25. Langit lagi cerah,  bintang banyak banget, lagi genit kedip-kedip. Bulan lagi deket bumi, jadi air laut pasang. Mungkin jadi ngaruh ke kondisi tubuh, cairan tubuh ikutan pasang? Apa jadi surut? Ah... Nggak yakin. Bapak jaga kesehatan, minum yang banyak yaaah. :D

p.s: happy reading. :)
p.ss: doakan mudah-mudahan isti bani nggak usah sampai memutar lagu The Cranberries - Linger di depan ruangan Bu Sri. Haha