Wednesday, 29 January 2014

Sex Sux - I Got Bones (in The Kitchen)

Bandung, 12 November 2013
Gedung FIP UPI. 3.18
07:34 WIB. 27°C. Cerah Berawan
Warna kerudung: Hitam

Halo, Random Citizen.Apakabar? :)

      Saya menulis ini selama kelas PSP (Penyusunan Skala Psikologi). Alih-alih menyimak ceramah Bapak dosen mengenai skala likert, saya malah memutuskan untuk berselingkuh.Tepatnya, Berselingkuh dengan rusuh dan temali yang mengikat kepala saya sejak dini hari pukul 01.07 WIIB. Rusuh di kepala saya adalah buah dari pesan instan via messenger kekinian yang dikirim oleh Ichan. Karena pesan instan itu, mulailah terjadi… kerusuhan., kerusuhan akibat saya memikirkan sex. Saya jadi gelisah, mendadak merasa gelisah.
     Pertama, iznkan saya untuk bertanya kepada kamu, random citizen: Apa yang pertama kali terlintas di kepala kamu ketika mendengar kata ‘sex’? Apakah yang terlintas adalah kata sifat? Kata benda? Atau kata kerja?
       Mungkin—maafkan dan kembali izinkan saya untuk mengambil asumsi secara serampangan—presentase terbesar yang terlintas pertama kali di kepala kamu saat mendengar kata sex adalah sebuah kata kerja, sebentuk aktivitas, bukan sekadar organ tubuh manusia. Bukan sekadar perkara genital, apalagi sekadar perkara selangkangan.Namun,  sesuatu yang lebih dari itu, Yin dan Yang, Anima dan Animus.
    Baiklah, karena itu saya akan mengajak kamu, random citizen, untuk bertamasya ke sebuah segitiga ternama, Segitiga Hierarki Kebutuhan Maslow. Ada lima tahap hierarki dalam segitiga Maslow yang kemudian direvisi—kalau tidak salah pada tahun 1970—menjadi delapan tahap hierarki. Tapi, kita akan tamasya ke segitiga yang klasik. Hierarki dari lima tahapan tersebut adalah sebagai berikut: fisiologis, safety, belongingness, self esteem dan aktualisasi diri. Ah saya benci hierarki. Namun menurut saya, perkara seks ini—aktivitas seksual—memenuhi semua tahap dari 5 hierarki kebutuhan Maslow.
      Pertama. Sangat nyata: sex, aktivitas seksual adalah hasrat manusia yang paling mendasar. Hasrat hewani. Sebuah bentuk pertahanan diri: berkembang biak. Mempertahankan rasnya, ras humani agar tetap ada di muka bumi.
      Kemudian yang kedua, safety alias keamanan.Saya percaya jika orang berani melepas semua keresahan mereka dan dengan rela hati telanjang, membuka semua topeng yang menutupi diri lalu bersama-sama melebur, berfusi dengan tubuh lain, individu lain, keresahan lain, dan ketakutan lain,akanmelahirkan rasa aman yang luar biasa.
         Ketakutan yang baru disadari manusia pasca Hawa atau Eve tergoda untuk mencicipi buah terlarang, buah Khuldi, buah pengetahuan.Karena buah ini, manusia jadi menyadari kalau mereka telanjang.Matanya terbuka pada keresahan, ketakutan, kekurangan dan kelebihan mereka. Walhasil, manusia menutupi diri. Ah Eve. Hawa.
        Yang ketiga: belongingness. Perasaan—atau ilusi?—menyalurkan dan disalurkan afeksi. Belongingness itu ketika kamu merasa berani untuk meruntuhkan semua pertahanan karena merasa memiliki seseorang, ketika kamu merasa memiliki dan pada akhirnya merasa cukup lalu rela menjadikan dan dijadikan selimut kulit oleh individu lain di bawah terang bulan. Belongingness juga mencakupkeberanianmu berbagi keresahan itu dan berfusi, merasakan peleburan tanpa khawatir kehilangan diri selama prosesnya. Belongingness pun berarti ketika kamu merasa berada di tempat yang seharusnya.Dan, pada akhirnya,  kamu merasa kamu utuh.Kamu kosong, namun utuh.
      Kemudian, hadir lagi fakta bahwa perasaan melebur itu bukan hanya menghilangkan keresahan kamu-- meskipun mungkin sifatnya hanya sementara--, tapi juga melahirkan perasaan lain: rasa puas. Excitement.Excite merangkum bagaimana kamu merasa memuaskan dan dipuaskan.Pada akhirnya perasaan itu meningkatkan self esteematau harga dirimu.
       Yang terakhir, dalam kondisi sekosong apapun, kamu merasa utuh, cukup, lagi penuh. Rasa Penuh ini yang mendorongmu merasa berhasil mengaktualisasikan diri dan menjadi manusia sepenuhnya.
        Aktivitas seksual berhasil memenuhi lima tahap hierarki kebutuhan klasik yang dibuat oleh Maslow. Namun ternyata riuh dan resah yang ada di kepala saya tidak selesai di sini. Saya terusik dengan kata yang saya tulis sendiri di kebutuhan ke empat,self esteem. Harga Diri. Ah betapa manusia bisa kerap resah.
      Walhasil, dini hari pukul 01.28 WIB, saya mengirim pesan singkat dengan isi serupa pad dua orang berbeda. Yang pertama, sahabat perempuan saya dengan inisial P dan yang kedua, seorang senior laki-laki dengan inisial M. Saya mengirimi mereka pesan singkat dengan tujuan mulia: meredakan keresahan dan distorsi yang ada di kepala saya sendiri. Bhuahahaha.
Begini cuplikannya:
X: Gak ngerti. Kalau Perempuan boleh, bisa, dan sah-sah aja dijadiin objek seksual tanpa ditanya dulu persetujuannya, apa laki-laki juga mau, boleh, bisa, dan sah-sah aja dijadiin objek seksual? (Kalau dijadiin kesepakatan kolektif memang mau jadi objek?) 
P: Untuk budaya tertentu sih bisa aja. Cuma ngga banyak diekspos aja. Soalnya stereotip sosial cowo itu jadi subjek, bukan objek.Ya nyambung ke peran gender.Kesannya cowo lemah dan ga punya kuasa kalau dijadiin objek seksual.Padahal banyak, apalagi cowo yang lebih muda dari cewenya (Setau aku). Korban pelecehan seksual cowo sama cewe jarang diangkat paling cowo sama cowo.
(di sini, saya sempat merasa enggan membahas gender karena akan erat kaitannya dengan nilai agama dan budaya hingga bahasannya akan berubah menjadi… krik krik krik)
X: Ah… Penis sombong yah. 
P: Iya, karena banyak orang-orang jenius cowo sih. Feminis kaya mati. Jaga pride sih cowo yang dijadiin objek seksual kebanyakan pada diem karena mungkin menganggap itu paksaan yang penuh kenikmatan. Ah penis susah bohong sih. Terlalu reaktif.
(Apa? Feminis kayak mati? Kepala saya menolak argumen ini. Kemudian pada akhirnya mulai mengetik balasan pesan singkat itu….)
X: ITU! Penis susah bohong. Horny aja pengumuman :)))))))))))))). Banyak perempuan pinter kok dari dulu. Mungkin sekarang feminis dipandang jelek karena dianggap menuntut perempuan > laki-laki, bukannya perempuan = laki-laki. Tapi kalaupun iya, sebagian ingin >, bukankah itu hanya manifestasi atau reaksi dari rasa frustasi setelah entah dari zaman kapan perempuan selalu dijadiin objek, alat, media, bukannya dijadiin pendamping atau rekan yang setara. 
P: Si penis wawar bari balaga = mentang-mentang punya sejuta sperma, jadi riya.
(Haha… saya senyum sendiri mengakhiri percakapan dan beralih pada senior saya. M. Begini percakapannya…)
X: Gak ngerti. Kalau Perempuan boleh, bisa, dan sah-sah aja dijadiin objek seksual tanpa ditanya dulu persetujuannya, apa laki-laki juga mau, boleh, bisa, dan sah-sah aja dijadiin objek sekusal? (Kalau dijadiin kesepakatan kolektif memang mau jadi objek?) 
M: Hm… Ngga tau.Mungkin bisa.
(Krik.Krik.Krik.)
Dini hari pasca menerima pesan singkat balasan dari M—yang begitu nyata singkatnya—,saya tertidur atau tepatnya memutuskan untuk tidur.Saya meninggalkan sahabat saya yang kemungkinan terus memikirkan betapa si penis jaga pride lalu a, b, c, d dan e.
           Pagi hari, ketika saya bersiap-siap untuk pergi ke kampus, menghadiri kelas PSP—yang kemudian saya isi dengan perselingkuhan :|—saya berpikir “wajar saja jika senior saya, M, tidak berkomentar banyak mengenai laki-laki sebagai objek seksual karena M adalah laki-laki”. Jadi, premis yang terlintas di kepala saya adalah: “Oh M, yang notabene pria, posibilitas memandang penis sebagai objek seks kecil. Mana mau atau mana bisa dia berfantasi soal……..”. Begitulah, premis pertama saya berhenti di sana. Kemudian saya malah memikirkan sebuah fakta umum yang akan disepakati masyarakat Bandung: lampu merah Pasteur lamanya minta ampun :|
          Lantas ketika saya berjalan kaki meniti tangga menuju ruang kelas ini, FIP 3.18, tiba-tiba hadir premis lain di kepala saya. Premis yang kedua mengenai balasan pesan singkat M yang betulan singkat: “Tapi bukankah fakta bahwa M yang mengaku ‘ga tau, mungkin bisa’ mengenai perkara laki-laki sebagai objek seks ini agak rancu? Maksud saya… bukankah seharusnya pernyataan paling reliable mengenai laki-laki—atau spesifiknya: penis—sebagai objek seks datangnya dari laki-laki? Kan secara statistik, laki-laki lebih sering bermain dengan penis(nya)? Menjadikannya sebagai objek untuk memperoleh kepuasan. Iya kan? Iya nggak? Secara statistik loh….”
        Kemudian premis kedua saya berhenti lagi-lagi begitu saja. Sahabat saya, P, terlambat masuk kelas. Dipilihnya tempat duduk di sebelah saya dan kami melanjutkan diskusi dini hari hingga sampai ke konklusi: sudut pandang kami relatif sama.
Saya seorang perempuan. P juga seorang perempuan.Apa yang saya cari? Apa yang saya inginkan?
             Saya ingin kesetaraan, dimana kedua belah pihak tidak menggunakan kekuatan baik fisik maupun psikis untuk mendominasi, dimana kedua belah pihak memiliki porsi, tanggung jawab, dan hak yang seimbang.Kesetaraan dimana kedua belah pihak sepakat untuk saling menghormati, saling memanusiakan, memanusiakan manusia. Karena manusia itu pelupa, maka mari saling mengingatkan.


“Tidak tahukah kamu, bahwa racun paling berbahaya itu adalah lupa?”




p.s: ini versi x setelah disunting oleh kangmas manan, dia yang ada di belakang primitifzine. :D
p.ss: versi asli sempat mejeng di paperzine #12: Seksualitas dan Kita.
p.sss: diunggah dengan lagu latar: noah and the whale - two atoms in a molecule.

Saturday, 25 January 2014

Perjalanan (cukup) Panjang Sebelum Terang

Akhir-akhir ini, saya dan teman-teman seangkatan sedang bergelut dengan tugas akademis yang menjadi… menjadi apa ya? Menjadi karya terakhir sebelum menyandang beban S.Psi di belakang nama. Iya gitu beban? Bentar, perkara ini beban atau nggak mungkin akan saya renungkan lagi nanti. Kapan-kapan, mungkin suatu sore ketika hujan di tempat yang cukup nyaman untuk menikmati segelas kafein. Ngomong-ngomong soal kafein, saya terakhir ngopi kapan sih? Kok ngantuk amat.

Eh, kenapa jadi ke sana….. kenapa jadi ke kopi. Isti bani, kamu harus fokus. Fokus untuk menjawab pertanyaan penelitian. Tapi pertanyaan penelitiannya apa? Ini kali… pertanyaan yang pernah dilemparkan oleh seorang rekan saya: “Ti, kenapa kita harus bikin skripsi?”
….. hening. Tapi seolah yakin, saat itu saya langsung menjawab: “Karena itu media dan sarana kita buat belajar. Upgrade skill.”
Skill? Ah.
Saat itu, iya pertanyaan dia berhenti di sana. Tapi ternyata pertanyaan dia tetap bercokol di kepala saya untuk beberapa lama. Kenapa yah… harus bikin skripsi? Lalu… muncul pertanyaan baru, memang kalau harus bikin skripsi kenapa gitu? Nggak sanggup? Takut? Males? Mungkin akan lahir alesan lain. Excuses… mungkin juga alesan saya muncul: writer’s block. Meh. Apalah, minta dijitak. 

Saya mau cerita babak baru soal ini, soal si skripsi ini. Perjalanannya lucu. Sumpah, lucu… Selama prosesnya… selama proses tawaf ganti variable buat cari judul penelitian yang tetap, di kepala saya terngiang sebuah lagu patah hati kacangan: the cardigans – communication.

Saya tawaf di kantor jurusan… di depan pintu ruangan Ibunda Sri Maslihah, M. Psi, Psi… Ibu Sri… yang cintanya saya rela tukar dengan salah satu dari tiga permintaan kalau berhasil mengumpulkan dragonball dan ahirnya summon shenlon. Ibu sri yang membimbing 4 mahasiswa lain yang nampaknya sudah lebih dulu akrab dengan beliau, karena urusan penelitian atau dinas lainnya. Dan saya? Saya…. Saya hanyalah butiran gula tepung di donat seribu lima ratus rupiah di klinik lapar. Dan saya, berulang kali… harus banyak aksi. Untuk menegaskan eksistensi saya di depan Ibu Sri…. “I didn’t really know what to call you, you didn’t know me at all. But I was happy to explain….”

Kemudian… semua proses bimbingan proposal itu saya lalui. Tegang. Lumayan. Cukupan. Setiap saya mengajukan variable baru…
#1.  X pada A. Result: Access Denied.
#2. Hubungan X terhadap Y pada A. Result: Access Denied.
Masih biasa… Stay Cool. Jaga pride. Nggak panik.
#3. Hubungan X dan Z terhadap Y pada A. Result: Access Denied.
“I never really knew how to move you. So I tried to intrude through the little holes in your veins…”
#4. Hubungan W dan Z terhadap Y pada A. Result: Access Denied.
Mulai… bingung. Rasa-rasanya ingin mulai menari tari piring di rumah makan Padang, yang uda-nya ternyata rumahnya di Tasik, bukan di Bukit Tinggi. -_-
#5. Hubungan W dan X terhadap Y pada A. Result: Access Denied.
……. Denied dengan cara yang…. Menyedihkan. Ibu Sri secara kasual, berjalan melewati isti bani yang sedang duduk santai. Lalu, tanpa diduga, menoleh ke arah isti bani, kemudian: “Isti, proposal kamu saya tolak ya… nggak masuk akal.”
Nggak masuk akal? Kaget. Hampir mental break down. Lalu? Tertawa… Ha..haha…hahaha….
“I’m talking and talking, but I don’t know how to connect.. And I hold a record for being patient, with your kind of hesitation
#6. Hubungan V dan W terhadap J pada A.
Diam. Diam. Diam. Lima hari… nggak ada kabar dari Ibu Sri. Isti bani, reload email setiap lima menit sekali. Mengirim beberapa sms pada beliau, tak kunjung dibalas…. Lalu…. Pecah…… tumpah…… 
“I’ll never really learn how to love youBut I know that I love you through the hole in the sky… If this is communication.. I disconnect . I’ve seen you, I know you, but I don’t know how to connect. So I disconnect...
Lalu saya memutuskan untuk menelepon teman satu bimbingan, yang lebih dulu disayang Ibu Sri.. (ini ngetiknya sambil cemburu.. hahahaha).. Kaget mendengar suara saya yang kalut, dia berusaha untuk menenangkan saya. Kemudian.. secara ajaib.. setelah saya menelepon dia, Ibu Sri membalas sms saya. Sial. Makin cemburu. Mahahaha. Ibu Sri meminta saya untuk bersabar, dan menjelaskan… betapa sibuknya beliau… But still, Result: Access Denied.

Jadi, saya bersabar. Menunggu... Lalu, di kamis pagi yang lumayan dingin, saya melakukan ritual mengecek ponsel. Ada beberapa sms. Salah satunya dari Bu  Sri, masuk ke ponsel saya pukul satu diri hari. Terharu. Isinya: “Asw, ini isti bani?”. Mahahahaha saya tertawa. Mendengar ibunda sri mengucapkan—apa mengetik—nama saya, rasanya sangat aneh. Setengah sadar, saya membalas sms beliau. Lama, tak ada balasan… lalu saya mengecek kotak terkirim. Ternyata balasan saya bodoh :/ untuk mengoreksi kebodohan saya, saya menelepon ibunda Sri. Lalu kami berjanji untuk bertemu di kampus. Aih…. Deg-degan. 

Dan…… pertemuan kami… singkat. Namun padat makna. (apalah istibani…. diksi kamu, kenapa?) Eh tapi serius. 10 menit, pasca saya uas lisan metode penelitian kualitatif, dan pasca ibunda Sri menjadi penguji di sidang skripsi, kami bertemu.. dan Ibunda Sri bilang sesuatu yang intinya: “Kamu, mendekat. Berjalanlah di bawah payung penelitian saya.” Kyaaaaaaa~~~~~~ (Sebenarnya untuk beberapa detik, karena frase payung penelitian, di kepala saya berputar lagu payung teduh. Ck. Brain. “Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata, ketika kita berdua. Hanya aku yang bisa bertanya, mungkinkah, kau tau jawabnya?”)

Lalu, jadilah… dengan bekal yang diberikan Ibunda Sri, saya mencoba. Melakukan percobaan ke #7. Hubungan F dan G pada B. Access: Granted. 
SUBHANALLAH! Ibunda Sri, bilang, “Sip, sudah bagus. Sidang Februari ya… Tapi, perjelas latar belakang. Jangan lupa input data dari jurnal nasional mengenai mengapa B butuh F.”
Haaaaaaaaa ibu… Terharu sih. Kemarin, setelah Ibunda Sri bilang bisa maju sidang, saya… nyengir. Padahal perjalanan masih panjang. Tapi rasanya… Lebih ringan… :)

Dan, si kepala yang hobi banget ngisi soundtrack, memutar lagu ini untuk saya: Munchausen Trillema – If Loving You Is HeartbreakingIya, mencintai ibu Sri beberapa kali membuat saya patah hati. Membuat saya bingung harus melakukan apa. Tapi, seperti lirik lagunya, “This is love I thought, Isn’t it? When you notice someone absence and you hated it. More than anything. More than you love his presence…
Iya, datang bimbingan, kemudian melihat proposal saya diperlakukan seperti kartu remi untuk main poker memang sedikit nyelekit. Tapi, Ibu Sri yang nggak membalas pesan singkat saya, Ibu Sri yang sulit ditemui… lebih membuat saya…. Kalut. Haha. Jadi, so be it! Saya, sekarang (sepertinya) lebih siap untuk stage berikutnya. Bab 1, Bab 2 dan bab berikutnya. Karena apa? Karena sesungguhnya, Ibu Sri… “If loving you is heartbreaking, so be it.

Ehehehe… Maap panjang. Balik lagi ke paragraf pertama. Perkara menulis skripsi itu… sepertinya kurang lebih upgrade skill. Kira-kira, untuk saya.. segala perkara dan proses yang terjadi di antaranya, membuat saya belajar untuk menghargai dan menaati system. Mencoba untuk sabar. Dan menghargai prosesnya. Nggak semua yang saya mau bisa saya dapatkan secara instan. Nggak semua yang saya mau, saya dapatkan dengan cara saya. Kadang, ada cara lain yang sudah disiapkan Dia yang Maha. Dan saya sedang menikmati menjadi bidak yang diikat system. Bidak di semesta yang buta aksara, tapi Dia yang Maha Berencana, nggak buta aksara… Jadi, istibans harus belajar sabar buat baca. Pelan-pelan. Pelan-pelan. Melalui perantara Ibunda Sri Maslihah, mudah-mudahan saya belajar ini itu…………… huhu. Mudah-mudahan, beneran jadi upgrade skill.... Supaya healing pointnya meningkat.

Kepada Bapak: Tenang, pesannya masih saya pegang. Si perkara lulus empat tahun akan diusahakan. Ini mau serius juga kok. Lagi manasin mesin. Tungguin yah. Hehe. Bapak, kok kurusan? Ish, anaknya gendutan nih di Bandung. Makan yang banyak, tapi jangan gule aja. Makan jeruk, satu kilo. Hahahahaha selamat tanggal 25. Langit lagi cerah,  bintang banyak banget, lagi genit kedip-kedip. Bulan lagi deket bumi, jadi air laut pasang. Mungkin jadi ngaruh ke kondisi tubuh, cairan tubuh ikutan pasang? Apa jadi surut? Ah... Nggak yakin. Bapak jaga kesehatan, minum yang banyak yaaah. :D

p.s: happy reading. :)
p.ss: doakan mudah-mudahan isti bani nggak usah sampai memutar lagu The Cranberries - Linger di depan ruangan Bu Sri. Haha

Thursday, 5 December 2013

beautiful tranquility

Akhir-akhir ini saya sering berpikir tentang masa depan. Mungkin tidak akan terlalu jauh. Lima tahun dari sekarang. Klise sekali ya. Saya membayangkan, apa yang sedang saya lakukan. Apa kesibukan saya. Apa yang menarik perhatian saya. Dengan siapa saya belajar?

Akhir-akhir ini juga saya semakin yakin, kalau saya enggan menyandang gelar psikolog di belakang nama saya. Saya lebih memilih untuk menjadi ilmuwan psikologi saja, mendalami psikologi terapan. Psikologi seni. Saya mungkin lebih memilih untuk bermain dengan konstruk kesadaran manusia melalui seni. Meraba dasar ketidaksadarannya melalui petikan gitar, intonasi dalam pementasan monolog, sapuan kuas dalam lukisan, pemilihan suasana latar dalam sebuah film. Saya semakin menyadari kalau saya enggan duduk di depan klien, direntangkan jarak meja dan kursi. Lebih baik saya berjalan, dan kembali belajar memahami diri sendiri dan individu terkasih di sekitar saya dengan cara berkaca di tempat-tempat yang disediakan semesta.



Lima tahun lagi… nampak waktu yang lama. Namun saya percaya, itu  tidak akan begitu terasa. Since time flies, right? Dan saya baru saja ingat, kalau lima tahun yang lalu, tahun 2009 saya mengalami kontemplasi yang serupa. Penggunaan kata kontemplasi mungkin sedikit berlebihan. Semenjak saya hanya membayangkan saya akan kuliah dimana, mendalami ilmu apa. Dan sekarang, di sinilah saya. Mendalami ilmu yang saya bayangkan akan saya tekuni. Di tempat yang tanpa sadar telah saya pilih, jauh sebelum saya merencanakan akan saya bawa kemana ilmu yang saya pelajari ini.

Lima tahun lalu, saya ketika SMA, dengan serampangan menulis Psikologi UPI di kertas tujuan saya menuntut ilmu. Tanpa tahu latar belakang dari psikologi UPI. Tanpa tahu sistem yang berkelindan di antaranya, tanpa tahu stereotip yang mengikatnya. Saya menulis psikologi UPI di antara  hukum UNPAD dan astronomi ITB. Saya yang mendaftar ujian masuk mandiri tanpa niat khusus, tanpa persiapan. Bahkan pensil pun saya pinjam dari orang yang duduk di sebelah saya. Saya bahkan lupa, orang yang berbaik hati meminjamkan pensil cadangannya pada saya itu laki-laki atau perempuan. Saya yang tidur setengah dari waktu yang disediakan untuk mengerjakan tes. Saya yang pongah dan naïve. Haha saya sepertinya harus banyak minta maaf  karena terlalu banyak menantang magis semesta.

Tapi Dia yang Maha Merentang Gejala ternyata memang perencana yang tidak ada duanya. disediakanNya saya sebuah jalur untuk mempelajari ilmu yang terbaik untuk saya menurutNya. Ternyata Dia telah melihat apa yang akan terjadi di konstelasi saya. Apa yang akan terjadi di tahun 2010, dan apa yang akan terjadi setelahnya. Oleh karena itu, Dia menyediakan saya satu bangku untuk mendalami ilmu psikologi. Sebuah fasilitas agar saya belajar untuk mencari dan menyeimbangkan banyak hal. Belajar membentuk dan dibentuk. Belajar dari b sampai z. Meski kerap kali usaha saya dalam menyeimbangkan dan membentuk hal-hal tersebut gagal. Banyak error yang terjadi karena saya ceroboh, impulsive.. Namun tetap saja, segala prosesnya dan perubahan makna yang terus terjadi di antara peristiwa ini itu kerap membuat saya senyum sendiri.

Haha. Saya sering kali geleng-geleng kepala, apa jadinya jika saya lulus masuk fakultas hukum? Akan sekeras apa kepala saya? Akan sekuat apa saya membangun dinding pertahanan untuk melindungi diri dari diri saya sendiri? Akan seenggan apa saya untuk mengakui ketakutan saya sendiri? Lagi-lagi, Dia memang Maha Humoris.

Kopi di gelas saya sudah dingin, dan khayalan saya tentang lima tahun ke depan makin menyenangkan. Mungkin, jika jalannya dimudahkan oleh Dia, lima tahun ke depan saya ada di jalan menuju level kesadaran yang lebih baik. sedang berusaha untuk terus ada dalam harmoni, dengan semua aspek. Dengan diri saya sendiri, dengannya, dengan semesta.

see you  soon.
isti bani, biji gandum.

Saturday, 23 November 2013

Saya Membaca, Kemudian Jatuh Cinta

Halo. Apa kabar?
Post kali ini lagi-lagi disponsori oleh sebuah pertanyaan di akun ask.fm saya. Lain dari biasanya, saya memerlukan waktu agak lama untuk menjawab pertanyaan ini. It took me 1 sks to answer this question. Pertanyaannya seperti ini: “neng, kenapa suka baca?”

Kurang lebih begitu. Karena pertanyaan ini, saya dengan sembrono—tanpa mempedulikan nyonya lambung yang sedari kemarin meriang dangdut—menyeduh secangkir kopi dan duduk di dekat kolam ikan di halaman belakang. Dengan dramatis… saya menatap ikan koi yang nampaknya hidupnya sangat tenang. Ah ibunda, satu pertanyaan singkat mampu menyeret anakmu ini ke lorong ruang dan waktu yang berbeda dengan realitas yang dipijak kakinya yang kecil.

Ikan berenang dalam kolam, dan saya berenang dalam memori. Mencoba mengingat. Kenapa ya saya suka baca? Kenapa saya berlari dari realitas lewat buku? Ih, tapi kan kata David Mitchell, baca buku itu bukan bentuk lari dari realitas, bukan bentuk eskapisme. Tapi adalah sebuah cara, supaya they can stop tscratching itself raw.

Jika itu bukan bentuk eskapisme, maka… postulatnya adalah: saya membaca sebagai bentuk sublimasi energi. Untuk meredakan kecemasan saya, untuk merentang kumparan konstelasi semesta lain di kepala saya, dan untuk mendekatkan saya dengan manusia lain. Mendekatkan saya dengan kamu.

Saya suka membaca karena membaca mengantarkan saya ke sebuah pintu bernama posibilitas. Dari sana saya belajar menyusun makna dan berpindah dari satu makna ke makna lain. Dari sana saya meraba lapisan kontruk kesadaran berbagai macam manusia. Manusia yang pada akhirnya saya kagumi proses-prosesnya. Dari sana saya belajar mencintai. Dan dari sana, saya belajar menulis.

Ijinkan saya bercerita, buku cinta pertama saya adalah sebuah dongeng anak-anak. Dengan ilustrasi cat air yang indah. Satu paket buku dongeng H.C Anderson sebesar kurang lebih 1 meter. Saya dengan takjub menatap ilustrasinya, dengan terbata-bata belajar mengeja karena ibu saya sudah lelah membacakannya untuk saya. Jika sudah dengan buku itu saya lupa waktu. Setelah itu, ibu membelikan saya banyak buku dongeng lain. Dalam basa Sunda. Ah saya begitu ingat dongeng Nini Anteh yang menenun kain di bulan, dan Budak Pahatu Lalis—sepasang kakak-beradik yatim piatu—yang berjalan di hutan. Buku-buku dongeng basa Sunda sudah habis saya baca. Saya mulai bosan. Akhirnya, ibu membelikan saya buku dongeng lain. Buku dongeng yang ada dalam Al-Quran. Saya berkenalan dengan pasangan Adam dan Hawa. Berkenalan dengan Muhammad kecil yang gemar mendengarkan cerita dari Kakeknya yang kharismatik di bawah hamparan langit berbintang.

Tak lama, buku dongeng dalam Al-quran itupun selesai saya baca. Enggan kehabisan bahan bacaan, saya mulai menjelajahi rak buku Ayah saya. Kemudian menemukan buku dengan sampul indah. Judulnya pun meskipun sendu, terdengar indah: Sayap-Sayap Patah. Di sana, saya kembali jatuh cinta. Mungkin saya tak paham isi bukunya, namun tetap saja. Aksara yang tertera di buku itu, membuat saya tak bisa berhenti membaca. Rasanya indah tapi menyedihkan. Rasanya aneh. Karena penasaran, saya bertanya pada Ayah saya. Siapa penulisnya. Ayah saya berkata, penulisnya bernama Kahlil Gibran. Seorang penulis asal Lebanon. Saya belum tahu, dimana itu Lebanon. Dan siapa itu Kahlil Gibran. Tapi tetap saja terdengar seperti seorang penulis dari negeri khayalan.

Duduk di bangku sekolah menengah, saya mengalami cinta monyet saya yang pertama seperti remaja pada umumnya. Saya jatuh cinta pada seorang pria. Saya jatuh cinta pada sosok Mpret yang dilukiskan Dewi Lestari dalam buku seri supernova: Petir. Saya jatuh cinta pada matanya. Saya jatuh cinta pada sikapnya yang peduli. Di masa ini juga saya berkenalan dengan Raden Mas Minke. Berkenalan dengan Harry Potter. Saya curi-curi membaca cerita perjalanan hidup Raden Mas Minke di pelajaran PKN ketika kelas dua SMP. Haha, saya duduk di bangku paling belakang, membaca sambil mendengarkan lagu Simple Plan – Perfect. Baru beberapa tahun kemudian saya menyadari bahwa Mingke tidak grew up according to his parent’s plan. Bhahaha. Betapa semesta in sync sedari dulu. Jauh sebelum saya menyadari kekuatan magis yang berkelindan di antaranya.

Saya jatuh cinta berulang kali. Saya membaca, kemudian jatuh cinta. Untuk meredakan sakitnya, saya menulis. Saya kembali ingat bahwa saya jatuh cinta sesering itu karena pertanyaan singkat tadi. Betapa manusia pelupa. Karena manusia pelupa maka kalimat pertama yang diturunkan oleh Dia Yang Maha Pengasih adalah: “Bacalah. Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Karena manusia pelupa—dan racun paling bahaya adalah lupa—maka Dia menyebar banyak pesan agar kita kembali ingat. Jadi saya mencoba untuk menelusuri ketidaksadaran kolektif yang berkaitan erat dengan pesan-pesanNya yang tersebar dalam buku-buku.

Saya suka membaca, karena itu mengantarkan saya pada menulis. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya menulis untuk meredakan rasa sakit akibat jatuh cinta. Jadi bagi saya, menulis adalah sebuah sarana. Anggap saja saya menulis sebuah peta agar saya tidak tersesat. Agar saya ingat, apa yang sama mau dan kemana arah yang saya tuju. Agar saya tidak kehilangan diri saya sendiri selama perjalanan.

Jadi, sekian renungan satu sks saya mengenai kenapa saya suka membaca. Mungkin ada beberapa hal yang terlupakan. Tapi kan manusia memang pelupa. Jadi ya…. sudahlah. Sekian dan terimakasih.

See you soon.
Isti Bani, Kacang Kedelai.

Monday, 26 August 2013

BAPAK SAYA NYATA! BUKAN MITOS #MetallicaJKT

Kemarin ketemu bapak. Bapak imajiner saya. Iya jarak saya dan Bapak saya itu mungkin ada lima puluh meter. Setara sama sungai dan bantarannya. Semacam jarak yang harus dijaga antar sungai dan pemukiman warga supaya gak kena banjir. Dan nampaknya jarak antara tribun tempat saya teriak, menyanyi, headbang dan hampir menangis dengan panggung tempat Bapak berdiri memang harus dijaga. Supaya saya tetep waras.

Apa Pak? Bapak mau denger saya bilang apa? Tadi malem Bapak luar biasa ganteng. Lihat Bapak udah ganteng banget padahal cuma pakai kaos warna hitam polos bikin saya mikir, "Allahuakbar...... Ganteng banget." Dan saya fix suka laki-laki dengan kaos hitam polos. Arketip. Arketip baru.
Foto Bapak diambil dari web official Metallica


Tapi maaf, 2 minggu sebelum Bapak datang ke Indonesia, pulang ke rumah buat ketemu saya dan keluarga yang lain, saya malah jarang mendengarkan suara Bapak. Saya malah asik sama vokal jazz swing Oma Blossom Dearie. Maaf Pak, bukannya nggak sayang. Bukan gitu. Anggap saja saya puasa mutih Pak. Puasa mutih dari lengkingan suara Bapak, ketawa usilnya Bapak, dan raungan distorsi Bapak dan Om-Om metallica lainnya.
Sengaja mutih, supaya nanti datang ke tempat saya dan Bapak reuni dalam keadaan perawan. Perawan distorsi. Dengan telinga suci. Bapak…. Tau gak? Saya ngantri, jalan jauh, dilarang bawa minum (padahal Bapak tau kan saya minum air putih sebanyak apa -_- udah semacam sapi mau diglonggong aja.) Tapi saya ikhlas. Karena semua penantian itu indah.

Jujur, pas liat jarak tempat saya duduk sama Bapak kecewa. Kecewa. Jauh…. Sedih. Saya mau ada di dekat Bapak. Melihat Bapak sedekat mungkin. Sedih… Asli sedih. Saya baru sadar jaraknya sejauh itu pas abang-abang seringai ada di atas panggung. Sedih. Tapi begitu Bapak naik, panggungnya tiba tiba megah. Kemegahannya menjadi nyata. Luar biasa. (Terimakasih untuk bigscreen LED yang menampilkan muka Bapak sama Om-om dengan jelas)

foto diambil dari web official metallica.

Dan disana, pas Bapak naik ke atas panggung. Saya jatuh cinta lagi Pak. Jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Saya jatuh cinta sama suara, senyum, humor, dan kegaringan Bapak. Jatuh cinta sama Bapak satu paket. Selama Bapak di atas panggung dan bernyanyi, saya merasa Bapak sedang mengingatkan saya tentang dongeng-dongeng masa kecil yang Bapak lantunkan untuk mengantar saya tidur. Itu apa Pak? Terdengar seperti cinta.

Pak… Magis. Rasanya magis. Luar biasa. Pak, setiap Bapak ketawa, “Mehehe!” atau sekedar senyum… Allah. Detik berhenti. Saya langsung lemes lutut. Belum pernah lemes lutut gara-gara laki-laki sebelumnya. Dan lemes lutut karena Bapak sendiri adalah sebuah kehormatan. Saya takjub, luar biasa takjub melihat Bapak seperti nggak pernah lelah. Sedangkan saya di tribun ikut nyanyi sama Bapak, tiga lagu terus ngos-ngosan. Tapi tiba-tiba inget cerita Son Goku yang minta bantuan dari seluruh penduduk bumi berupa energi dengan cara angkat tangan, supaya bola semangat yang dia buat untuk mengalahkan manusia iblis bhu semakin besar. Mungkin Bapak juga gitu ya. Minta kita buat teriak, buat angkat tangan. To horns up. Karena Bapak butuh energi kita. Dan saya tanpa ragu akan menggadaikan semua energi saya untuk Bapak. Dan saya yakin, yang bersedia menggadaikan energi bukan cuma saya Pak.

Tulisan ini juga dikutip dari web official Metallica
Saya percaya Bapak bisa merasakan keberadaan saya. Teriakan saya. Walaupun jarak kita jauh. Bapak….. Terimakasih buat kemarin. Terimakasih pesannya sudah diterima dengan baik. Pas Bapak minta saya buat berhitung sampai empat, saya tahu Bapak mengingatkan saya untuk lulus kuliah empat tahun. Iya, saya akan berusaha sekuat tenaga Pak. Saya akan jadi perempuan pinter yang tepat guna dan berguna buat orang lain. Bapak tenang aja.

Pas saya teriak “WE WANT MORE! WE WANT MORE!” Bapak melakukan gesture mau pergi tidur. Iya saya tahu Bapak mengingatkan saya untuk tidur normal. Untuk berhenti jadi nocturnal. Untuk mengembalikan jadwal tidur saya dengan normal. Untuk lebih concern  sama kesehatan badan saya.

Bapak, ternyata prediksi saya tepat. Mata berkaca-kaca. Air mata nyaris menetes pas Bapak dan Om-om membawakan lagu nothing else matter. Menyaksikan lagu ini live, ada di venue pas Bapak nyanyi… nggak bisa diungkapkan pakai kata-kata. Iya Pak, mulai sekarang saya bakal mencari dan menjalani dengan dia yang akan diajak berbagi lagu ini dengan lebih serius. Saya akan ditemukan dan menemukan the one to say “trust I seek and I find in you.” Karena syaratnya sudah dipenuhi. Melihat Bapak menyanyikan lagu ini secara langsung. NYATA. NYATA.


Terimakasih Bapak. Terimakasih sudah mengingatkan saya. Saya akan belajar dengan lebih serius.

p.s : gak peduli. kalian mungkin tambah mikir saya freak. ada waham. having another odd believe, odd thinking. tapi udah sah! INI UDAH SAH. FOREVER TRUST IN WHO WE ARE. AND NOTHING ELSE MATTER!!!! reuninya luar biasa manis. :') <3>